Danmachi Vol.6 – Part 1 “Kelinci Yang Marah”

Part. 1 <Kelinci Yang Marah>

Jalan-jalan batu dihangatkan oleh sinar matahari yang ada di atas langit pada sore yang ringan ini.

Cuaca sudah bagus selama beberapa hari belakangan ini; semua orang tampaknya berada dalam suasana hati yang baik. Pusat kota meluap dengan suara suara yang gembira. Jalan utama yang lebar dipenuhi gerobak-gerobak yang ditarik kuda, demihuman, dan para Travelers dalam perlengkapan traveling mereka yang pergi untuk melakukan suatu urusan bisnis.

Melewati gerombolan dari para manusia dan di tengah jalan yang lurus, di depannya berdirilah sebuah menara putih yang sangat tinggi hingga menembus langit biru.

“Tapi tetap saja, aku sangat senang dirimu dan yang lainnya berhasil kembali dengan selamat.”

“Maaf membuatmu khawatir … Dan terima kasih.”

Aku sedang berada di luar di salah satu bar yang ada di Bagian Barat, The Benevolent Mistress. Aku tidak tahu berapa kali diriku telah meminta maaf dan berterima kasih kepada Syr-san, tetapi aku melakukannya sekali lagi. Aku tidak akan pernah melupakan ekspresi wajahnya ketika diriku pertama kali memberi tahu dia, bahwa aku telah kembali dari lantai 18. Senyum itu, sorot matanya, bagaimana rambut silver-nya berputar-putar — semuanya.

Aku masih tidak percaya sudah tiga hari sejak kami mengalahkan Goliath dan kembali ke permukaan.

Sudah seminggu yang lalu dari hari ini ketika kami tidak bisa keluar dari lantai menengah dan terpaksa harus turun ke lantai 18. Rupanya banyak orang di permukaan khawatir dengan kami. Syr-san jelas salah satu orang yang khawatir. Meskipun dia tidak bisa datang ke Dungeon sendiri seperti yang dilakukan oleh Kami-sama, dia mengirim rekan kerjanya, Ryuu-san, untuk mengejar kami.

Aku akan selamanya berterima kasih kepada Elf yang telah menyelamatkan hidupku berkali-kali.

Tentu saja, aku tidak akan pernah melupakan betapa bahagianya diriku ketika dia mau melakukan hal itu untukku.

Aku menyeringai untuk menyembunyikan rasa maluku dari gadis yang tersenyum tepat di depanku.

“Apakah tubuhmu sudah pulih sepenuhnya?”

“Iya. Miach-sama… Aku menerima perawatan dari Familia yang baik, dan aku baik-baik saja sekarang. ”

Berkat Miach-sama serta obat dan potion terkuat dari Nahza-san, aku dapat memulihkan semua kekuatan dan kekuatan mental yang telah hilang selama tiga hari terakhir ini.Kami kembali ke permukaan sehari setelah melawan bos lantai. Aku telah menghabiskan dua hari terakhir ini untuk memulihkan serta menghubungi semua orang yang kutahu untuk memastikan bahwa mereka tahu aku baik-baik saja. Aku bertemu mereka secara pribadi, melihat mereka lega, melihat mereka menahan amarah mereka, dan berbagi bersama dalam tawa. Sebenarnya, Syr-san adalah orang pertama yang aku kunjungi, jadi ini adalah kali kedua aku melihat senyum lega di wajahnya.

 

Kehangatan sinar matahari yang terasa di kulitku dan langit cerah adalah bukti bahwa aku benar-benar berhasil keluar hidup-hidup. Berkat itu, aku dapat mengalami rasa sukacita bertemu kembali dengan orang-orang yang kupikir tidak akan pernah aku temui lagi. Aku kira bahwa semakin banyak rasa takut dan bahaya yang kamu alami, semakin bahagia dirimu ketika bisa pulang dengan selamat. Aku benar-benar kembali.

 

Bahkan dengan semua keributan di sekitarku, aku bisa merasakan pipiku mulai kembali tersenyum.

“Syr, Mama Mia meminta kita untuk membuka … Oh, Cranell-san. Aku tidak tahu kamu ada di sini. ”

” Ryuu-san. ”

Ryuu-san muncul dari pintu bar untuk memanggil Syr-san supaya kembali ke dalam. Dia dengan cepat mengucapkan selamat pagi dan aku menjawab dengan ucapan selamat pagiku sendiri.

Tudung dan pakaian bertarungnya yang dikenakan di Dungeon telah lenyap, diganti dengan seragam maid nya. Melihatnya berpakaian seperti ini setelah bertarung bersama dengan petualang bertudung yang kuat dan cantik terasa sangat aneh … Ada perbedaan besar antara maid yang imut ini dengan petarung yang kukenal.

“Aku senang melihatmu baik-baik saja. Kamu tampak sedikit lebih baik daripada mayat saat kita dalam perjalanan kembali dari Dungeon ke permukaan . Aku khawatir dengan kesehatanmu. ”

“M-maaf tentang itu …”

Aku mendorong diriku terlalu keras ke bawah dan membentuk sudut 90° dari lantai. Elf itu menggeleng kepala nya dari sisi ke sisi dan akhirnya berkata, “Itu bukan apa-apa.” Bibirnya yang kelihatan tipis terlihat sedikit mengendur.

… Itu hanya sedikit, tapi aku merasa jarak antara Ryuu-san dan aku telah menyusut. Nada suaranya tampak sedikit lebih ramah dan ekspresinya lebih lembut dari biasanya. Ini sangat kecil, tapi cukup untuk bisa diperhatikan.

Itu memang tidak terlalu lama, tapi waktu yang kami habiskan bersama di Dungeon memungkinkan diriku untuk menjadi lebih dekat dengannya.

“… Bell, kamu sudah berteman dengan Ryuu-san, kan?”

“Ap-apa?”

“Tapi untuk mengintip itu tidak akan pernah benar, oke?”

“B-baiklah …!”

Dia menatapku sejenak, jarinya tepat menunjuk di depan hidungku. Peringatan kerasnya begitu kuat hingga aku hanya bisa mengeluh sebagai responku.

Ketika aku pertama kali datang menemuinya, Syr-san sudah tahu tentang insiden mengintip itu … Aku sudah cukup banyak melihat tubuh Ryu-san yang sedang telanjang . Dia dengan keras memarahiku, tapi itu lebih terasa seperti hukuman bagiku. Aku belum pernah melihat Syr-san sangat marah sebelumnya. Omelan yang keras dari seorang gadis yang lebih tua, sudah lebih dari cukup untuk membuatku tersentak. Memang benar aku menuai apa yang kutabur, tapi tetap saja …

Aku merasa rendah saat gelombang baru dari rasa malu ku dan rasa penyesalan mengalir di tubuhku, wajahku pun memerah.

“Syr, itu hanya kecelakaan. Tolong jangan salahkan Cranell-san . ”

“ Ryuu, bagaimana bisa kamu begitu yakin itu adalah kecelakaan? ”

 

“Jika aku merasakan adanya pikiran kotor di dekat ku, aku akan langsung memotongnya di tempat itu.”

– Semangat di dalam jiwaku sudah berakhir. Aku perlu melakukan semua yang mungkin untuk menghindari pengulangan kesalahan yang terjadi di masa lalu.

“Aku mendengar ini dari Ryuu, tetapi kamu bertarung dengan monster yang sangat kuat, iya kan, Bell-san?”

Dia tepat menusukku dengan pertanyaan itu ketika aku sudah mendapatkan kepalaku kembali ke pundakku.(note: mungkin maksudnya si Bell itu dari tadi nunduk terus, terus pas dikasih pertanyaan itu dia ga nunduk lagi)

“Oh, iya.” Aku berhasil mendapatkan jawaban dari mulutku begitu aku sadar dia sedang berbicara tentang Goliath yang ada di lantai 18.

“Aku juga mendengar kamu berhasil mengalahkannya.Apakah itu benar?”

“ Eh, um, tentang itu … ”

Aku mulai menyangkalnya, tapi tiba-tiba Ryuu-san melihat mataku. Tidak perlu secara sopan. Tatapannya mengalahkanku dan suaraku juga jadi menyusut hingga menjadi diam. Aku masih ingat ketika di kolam tempat dia mandi, dia memarahiku karena aku meremehkan diriku sendiri … Aku berdiri di sana sejenak sebelum Syr-san mengangguk untuk menghindari momen yang canggung.

“Wow, luar biasa! Bell-san, kamu telah menjadi petualang yang kuat! ”

“ Yah, aku, um … ”

Syr-san dengan penuh semangat menyatukan tangannya dengan satu tepukan tangan. Yang bisa kulakukan adalah memaksakan senyumku sendiri. Menerima semua pujian dan sanjungan ini terasa menyenangkan, dan itu membuat diriku sangat senang ketika melihat tatapan segan di matanya, tapi aku tidak dapat mengambil semua pujian itu.

Aku benar-benar percaya jika ada seseorang, siapa pun itu tidak ada di medan perang di hari itu, aku tidak akan berdiri di sini sekarang. Aku akan dengan senang hati bertaruh untuk hal tersebut. Benar bahwa aku melakukan serangan terakhir dengan Skillku, Argonaut. Tetapi jika bukan karena Ryuu-san dan semua orang yang melindungiku, aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menggunakannya. Bukan hanya bos lantai yang bisa membunuhku , tapi juga ratusan monster lain yang berkeliaran di sekitar medan perang. Aku mendapat banyak bantuan, dan aku membutuhkannya.

Kami bisa meraih kemenangan karena setiap petualang menyisihkan kepentingan Familia mereka sendiri dan lebih memilih bekerja sama dengan petualang yang lain. Jauh lebih akurat untuk dikatakan kita ‘semua’ telah mengalahkan monster itu.

“Salah satu pelanggan tetap kami telah menjadi petualang terkenal! Aku sangat bangga bekerja di sini! ”Dia berseri-seri dengan gembira, seperti hal tersebut adalah pencapaiannya sendiri dan aku hanyalah orang lain. Matanya menyipit dan mulutnya melebar dalam senyuman yang membuatku merasa ingin tertawa, dan dia melanjutkan. “Kamu inginnya bagaimana, apakah ingin mengadakan pesta lain untuk merayakan hal tersebut? Tidak setiap hari kamu kembali dari pengalaman yang hampir mendekati kematian, bukan? Bagaimana kalau malam ini?”.

Dia menyarankan kami untuk melakukan sesuatu seperti ketika aku naik level ke level 2. Aku sangat senang melihatnya begitu bersemangat tapi …sebuah sosok bayangan yang menakutkan muncul di kepalaku. Mungkin itu ide yang baik untuk menolaknya.

“Aku tidak bisa memintamu untuk melakukan itu, tidak setelah semua masalah yang disebabkan olehku… aku rasa aku tidak dapat melihat wajah Mia-san…”

 

Mia-san adalah orang yang memiliki dan mengoperasikan The Benevolent Mistress. Rupanya dia sangat marah karena Ryuu-san meninggalkan tugasnya dan memilih untuk bergabung dengan kelompok yang mencariku. Dia membentak, mengatakan bahwa seseorang yang bergantung pada bantuan orang yang ada di luar Familia mereka sendiri harusnya “berhenti membutuhkan orang untuk menyelamatkan ‘Aku’ .”

Hanya bayangan wajahnya yang mendidih di belakangku membuat diriku mundur ketakutan.

“Heh-heh, dia akan gembira jika kamu menceritakan kisahnya tentang apa yang terjadi, kamu tahu.”

Pipi Syr-san memerah saat dia membungkukkan badannya ke arahku, senyum aneh di wajahnya. Sementara itu, Ryuu-san menambahkan pendapatnya sendiri dalam nada yang biasa-biasa saja. “Sepakat. Mama Mia menikmati kisah keberanian. ”

” Apa yang kamu katakan? “Syr-san bertanya dengan suara yang ramah. Itu membuatku senang kalau dia merasa seperti ini, tapi sayangnya hal itu tidak bisa terjadi malam ini. Aku pun menggelengkan kepalaku .

“Aku benar-benar minta maaf, tapi aku harus menerima itu, hari ini juga. Aku sudah punya rencana malam ini … ”

” Oh, benarkah? ”

” Cranell-san . Apakah rencana ini melibatkan anggota partymu? ”

Bibirku melebar menjadi senyuman saat aku mengangguk dengan antusias. Seperti yang Ryuu-san katakan, aku akan merayakannya bersama dengan teman-temanku malam ini.

*****

Matahari tenggelam yang tak terlihat dari balik tembok kota yang tinggi, menutupi jalanan dalam bayangan yang berwarna biru. Orario bahkan menjadi lebih hidup saat malam tiba.

Lagu-lagu gembira bergema dari kedai-kedai minuman, dan artis jalanan mengadakan pertunjukan di taman dan ruang terbuka di sekitar kota. Banyak orang berkumpul untuk menyambut para petualang saat mereka keluar dari Dungeon. Lampu-lampu dari batu Sihir menerangi malam.

Satu blok tertentu yang berdekatan dengan Bagian Selatan benar-benar menghidupkannya.

Lampu dari batu sihir dengan berbagai warna menerangi jalan yang lebar. Lampu itu sendiri cukup terang untuk menyaingi bintang di langit. Melihat ke jalan itu, semua bangunan tinggi dan masing-masing memiliki penampilan yang unik. Ada bar, kasino, dan teater di seluruh tempat, bersama dengan perusahaan lain yang tidak akan terlihat di tempat lain yang ada di kota. Jalan Bagian Selatan sama padatnya dengan reputasinya sebagai kawasan hiburan.

Tapi aku meninggalkan semua itu di belakang dan pergi satu blok lagi.

Aku bertemu Lilly dan Welf di dalam bar yang dipenuhi dengan semua jenis topeng hewan, dari burung hingga singa. Kami bertiga duduk mengitari meja dan menyentuhkan gelas kami.

“Bersulang!”

Senyum meluap di sekitar meja seperti busa bergelembung di atas cangkir Ale kami(note:Ale adalah sejenis bir yang dibuat dari sari malt barley). Kami bukan satu-satunya yang bersenang-senang. Trang, trang! Kelompok petualang lain di meja yang ada di sekitar kami mulai menikmati minuman setelah bekerja keras seharian.

Ada tanda merah besar yang terlihat sangat mirip dengan lambang Familia di dinding yang juga memiliki semacam desain serangga. Ini adalah simbol dari bar ini: Hibachitei, Flaming Wasp .

 

Terletak di gang belakang dari distrik bisnis, kedai ini populer di antara berbagai kelompok petualang dan pandai besi, Welf menjadi salah satunya. Bar ini mengklaim minuman yang paling populer adalah “red mead” (note: mungkin red mead itu minuman yg terbuat dari madu, mungkin sih ya) . Tampaknya hal itu cukup baik untuk membuat orang-orang berdatangan kemari hanya untuk meminumnya.

Dibandingkan dengan The Benevolent Mistress , tempat ini agak sempit. Aku kira hal tersebut karena tempat ini lebih berada di jalan belakang daripada jalan utama. Ada cukup banyak dari meja, kursi, dan hambatan lain di sini yang membuat orang orang kesulitan ketika sedang berkeliling. Bagian dalamnya sedikit kotor dan dipenuhi dengan para Dwarf dan orang orang yang sedang tertawa bersama dengan suara yang keras. Aku tidak bisa meletakkan jariku di atasnya, tetapi ada sesuatu yang berbeda dengan atmosfer yang ada di sini. Tempat Syr-san cenderung cerah dan modern, tetapi Flaming Wasp terasa lebih seperti barnya para petualang.

Beberapa gadis prum berusaha melewati kami saat aku sedang berbagi tawa dengan Lilly dan Welf.

“Selamat atas peningkatan level, Welf!”

” Welf-sama sekarang resmi menjadi High Smith, ya? ”

” Itu aku … Terima kasih. ”

Dia mengelus kepalanya, terlihat sedikit lebih malu dari biasanya. Namun senyuman di bibirnya adalah bukti yang perlu kuketahui kalau dia memperoleh baik tujuannya maupun kebanggaan yang menyertainya. Welf telah mendapatkan cukup banyak excelia(note:excelia itu kyk XP di game) melalui perjalanan kami ke tingkat menengah dan juga di banyak pertempuran di lantai 18 untuk level up – dari Level 1 ke Level 2. Pada saat yang sama ia memperoleh Advanced Ability “Forge”.

Hephaistos-sama memperbarui statusnya, dan pengumuman rank-up nya dibuat pagi ini. Dia datang langsung ke rumah Kami-sama untuk memberi tahu kami begitu dia tahu hal tersebut, seringai besar terlihat di wajahnya. Dari sana dia pergi memberi tahu Lilly, dan sekarang kami bertiga di sini untuk merayakannya.

Welf sekarang adalah High Smith — kita tidak dapat membiarkan hari istimewa ini berlalu tanpa memperingati hal tersebut .

” Welf-sama, apakah sekarang kamu bebas untuk menandai karyamu dengan merek Familiamu sendiri kapan pun kamu mau? ”

” Setiap kali aku ingin melakukan itu. Aku harus membutuhkan persetujuan dari Hephaistos-sama bersama dengan beberapa dari para pemimpin lain sebelum aku dapat menggunakan merek itu. Senjata yang dicap lemah hanya akan menodai nama Hephaistos-sama. ”

Sekarang Welf telah bergabung dengan jajaran para High Smiths, dia sekarang diizinkan untuk mengukir lambang Ἥφαιστος (Heipaistos) pada senjata dan zirahnya.

Sepertinya dia tidak bisa melakukannya setiap waktu, tapi aku yakin … tidak, aku yakin karya Welf akan mulai laris dengan baik. Tanda Ἥφαιστος (Heipaistos) memiliki banyak pengaruh.

Tambahan fakta bahwa peralatan yang dibuat oleh seorang High Smith pasti selalu diminati, dan reputasi Welf sebagai pandai besi akan menyebar dengan cepat layaknya api. Sementara aku sangat bahagia untuk temanku, aku juga sedikit sedih. “Tapi ini berarti … kamu akan meninggalkan party ini, bukan?”

Alasan utama mengapa Welf ingin bergabung dengan kami pada saat pertama kali adalah agar dia bisa mendapatkan Ability Forge. Dia sudah mencapai tujuannya, jadi tidak ada alasan baginya untuk bertahan di Party. Menolak untuk membiarkannya mengejar impiannya akan menjadi hal yang egois untuk diriku sendiri.

 

Ini bisa menjadi yang terakhir kalinya aku melihat Welf. Lilly juga terlihat agak sedih .

Welf menggaruk bagian belakang kepalanya. Dia menyeringai dan melihat kami seperti seorang saudara, berusaha untuk menghentikan dirinya dari rasa tersipu malu. “Jangan menatapku seperti seekor kelinci yang ditinggalkan di sisi jalan.” Dia mengaduk bir di dalam gelasnya beberapa kali dan melanjutkan. “Aku berhutang budi pada kalian. Aku tidak bisa hanya mengatakan ‘aku selesai, dadah’ dan melarikan diri begitu saja.”

“ Huh … ”

“ Aku akan bergabung denganmu kapan pun kamu memanggilku, bahkan termasuk juga untuk merangkak di Dungeon. Jadi jangan khawatir, ”dia selesai dengan seringai di senyumannya.

Aku berkedip beberapa kali sebelum senyuman menularnya mengambil alih diriku. Mata Lilly melengkung ke atas saat kami bertiga saling menyentuhkan gelas kami lagi. Kami masih sebuah Party.

“Welf-sama hanya bergabung dengan kita selama dua minggu… Ranking up tidak butuh waktu yang terlalu lama. Lilly yakin hal itu akan membutuhkan lebih banyak waktu.”

“ Yah, aku tidak mungkin hanya duduk diam di pantatku sebelum aku bergabung dengan kalian berdua. Tapi yah, itu terjadi dalam sekejap mata … Aku kira dengan aku hampir mati lima kali di lantai tingkat menengah mungkin mempercepat prosesnya sedikit. ”

” Ah-ha-ha … ”

Percakapan kami pun bercampur dengan keributan yang ada di dalam bar yang ramai.

Piring di atas piring dari berbagai jenis makanan dibawa ke meja pelanggan lainnya. Steak ham panggang, ikan goreng dengan saus herbal — aroma di sini sungguh luar biasa. Akupun bekerja keras demi mencoba beberapa red mead itu. Hanya satu tegukan saja sudah cukup untuk mengirimkan gelombang panas ke tenggorokanku dan juga menghangatkan perutku. Welf adalah orang yang merekomendasikan Hibachitei kepada kami untuk menjadi tempat acara kumpul-kumpul kami. Setelah mencicipi beberapa makanan dan minuman di sini, aku sekarang mengerti kenapa. Tempat ini berada di peringkat atas sama dengan The Benevolent Mistress. Aku ingin tahu mana yang lebih murah?

Dewi kami juga akan bergabung dengan kami malam ini. Tapi menurut Welf, Hephaistos-sama agak marah pada Hestia-sama — sesuatu tentang Dewi Hestia yang memiliki “tanggung jawab lain,” atau sesuatu seperti itu … Dia harus melakukan pekerjaan paruh waktu di Babel Tower, dan dia tidak senang dengan itu. Dia melakukan yang terbaik untuk memberikan keinginannya pada Welf , tetapi wajah depresinya terlihat jelas. Welf telah menyeringai dan juga menerima ucapan selamat tersebut.

“Jadi Bell, kamu tidak level up?” Welf mengubah topik pembicaraan.

“Tidak, belum,” jawabku jujur.

Basic Abilitiesku sedikit naik selama perjalanan empat hari kami untuk melalui tingkat menengah, tetapi itu tidak cukup bagi Statusku untuk naik ke yang tertinggi.

“Lebih sulit mendapatkan excelia di Level 2 daripada di Level 1. Hal yang sama juga berlaku untuk level up … Tapi Lilly yakin bahwa Ryuu-sama menerima sebagian besar excelia dari pertempuran terakhir.”

Lilly menyamar sebagai gadis werewolf muda menggunakan Sihirnya untuk menyembunyikan identitas aslinya. Telinga serigala di atas kepalanya bergerak ke depan dan ke belakang saat dia berbicara. Aku setuju dengan setiap kata yang dia katakan.

 

Pertempuran terakhir … Bos lantai, Goliath.

Kami bergabung dengan petualang dari Rivira untuk menyerang monster itu. Harus ada lebih dari seratus dari kita untuk bekerja sama, melindungi satu sama lain dan menciptakan celah bagi yang lain untuk menyerang. Namun, Goliath memanggil segerombolan monster ke dalam pertempuran. Petualang lainnya pun harus melawan mereka sehingga kita bisa fokus pada Goliath sendirian. Harus ada setidaknya lima ratus dari kita, baru sekarang aku memikirkannya.

Semua petualang yang ambil bagian dalam pertempuran kelompok, berhak mendapat bagian dari excelia yang didapat selama pertempuran. Meski begitu, orang-orang yang memanggul beban terberat layak mendapatkan bagian terbesar — dalam hal ini Asfi-san dan Ryuu-san karena mereka yang paling lama menahan Goliath di dalam pertempuran itu, dan Ryuu-san menimbulkan lebih banyak kerusakan daripada Asfi-san. Aku yakin dia menerima jauh lebih banyak excelia daripada orang lain.

Jika Welf dan yang lain tidak melindungiku atau memberiku waktu, aku tidak akan pernah mendaratkan serangan terakhirku. Ryuu-san, bagaimanapun juga, hampir melakukan semuanya sendirian.

Menghadapi monster sebesar itu sendirian untuk melindungi sekutunya dan juga tetap menyerang ke depan … Aku masih takjub dengan apa yang dia lakukan. Tindakan heroiknya layak diabadikan dalam buku pahlawan. Mengingat bagaimana dia bergerak, ketangkasan serangannya, bahkan auranya sendiri masih membuat tulang rusukku merinding.

“… Jadi, apa itu sebenarnya? Goliath itu? ”

Karena topik pembicaraan sepertinya melayang ke arah itu, Welf bertanya kepada kami secara langsung tentang“ hal yang tidak biasa ”yang kami temui di lantai 18.

Kami bertiga mendekat agar tidak didengar oleh orang-orang yang ada di sekitar kami.

“Tidak ada penjelasan, selain hanya hal yang tidak biasa terjadi … Seorang bos lantai yang muncul di safe point belum pernah terjadi di era ini.”

“Bajingan itu lebih kuat dari yang lain, yah? Monster itu melemparkan petualang kelas atas yang ada di sekitarnya seperti seekor serangga ! Jika salah satu dari hal-hal itu muncul, kita pasti akan binasa. ”

“Aku pikir kamu benar …”

Seorang boss lantai hitam. Monster Rex yang lebih kuat.

Suatu Monster yang muncul di suatu lantai yang seharusnya tidak mungkin untuk muncul, yang membuat kami berputar ke lubang terdalam dari keputusasaan. Segala sesuatu tentang itu bertentangan dengan akal sehat. Cukup menganggapnya sebagai hal yang tidak biasa tidak bisa dianggap sebagai suatu keadilan.

“Hestia-sama sepertinya mengetahui sesuatu tentang itu …”

Saat Dia melihat benda hitam itu muncul — Dia bilang hal itu dikirim untuk melenyapkan-Nya.

Dungeon marah karena ada Dewa di dalam Dungeon.

Para Dewa tetap berada di luar Dungeon supaya menyembunyikan kehadiran mereka.

Melihat bagaimana Dia bereaksi dan mendengar apa yang Dia katakan, aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa para Dewa dan Dewi memiliki suatu hubungan dengan Dungeon. Mungkin Dewa-Dewa yang tahu segalanya sedang menyembunyikan sesuatu.

“Apakah Hestia-sama memberi tahu segalanya ke Bell-sama?” Tanya Lilly, tetapi aku menggelengkan kepalaku tidak. Setelah pertempuran, Kami-sama meminta maaf beberapa kali, tetapi selalu menghindari pertanyaan setiap kali aku bertanya padanya.

Dia terus bertindak seperti seolah olah hal itu adalah sesuatu yang tidak boleh aku ketahui, dan aku juga tidak bisa melawan kemauan Dewa-Nya. Itu membuatku merasa agak cemas.

Tapi tetap Dia tidak ingin mengatakannya, atau mungkin Dia tidak perlu melakukan hal itu.

Itu kesan yang aku dapatkan dari-Nya.

Menemukan misteri yang tersembunyi di dalam Dungeon mungkin adalah pekerjaan kita sebagai petualang — kita dan kita sendiri.

Pikiran-pikiran ini dan lebih banyak lagi, mengalir di pikiranku ketika aku sedang berdiri dan ternganga, di depan Kami-sama.

“Jadi, hanya itu yang kita tahu, bukan … Bagaimana dengan reaksi orang-orang ketika mengetahui berita itu?” Welf mengubah topik pembicaraan untuk memperbaiki suasana di meja kami.

Kami mulai berbicara tentang apa yang terjadi setelah pertempuran itu dan situasi sekarang ini.

“Tidak ada kebingungan atau kepanikan di dalam Orario karena Guild mengeluarkan perintah pembungkaman segera. Kita adalah satu-satunya yang mengetahui kisah yang sebenarnya , bersama dengan yang ada di pertempuran saat itu. ”

” Jangan katakan apa pun tentang itu itu yang mereka katakan …”

“Akan ada penalti yang sangat besar juga. Guild benar-benar ulet.”

“ Lilly juga telah mendengar bahwa Rivira sudah kembali berbisnis di lantai 18. Dungeon juga tampaknya normal, tanpa ada yang tidak beres”.

Lilly sangat baik dalam mengumpulkan informasi, hal itu disebabkan karena masa lalunya dimana dia menjadi pencuri dan penipu. Dia punya pengetahuan yang jauh lebih baik tentang apa yang terjadi daripada Welf atau diriku.

Rupanya Dungeon dan kota Orario sedang dalam perubahan kembali ke normal. Upaya Guild untuk menjaga ketenangan tetap harus dibayar — bagaimanapun juga, Guild memiliki kuasa atas semua petualang karena mereka mengontrol pendapatan para petualang serta mengelola sumber daya Dungeon.

Terlepas dari semua itu, aku bertanya-tanya apakah para penghuni Rivira itu benar-benar ingin kembali atau tidak. Padahal Ini adalah situasi yang dapat mengancam hidup, jadi aku tidak yakin apakah mereka itu pedagang yang tidak kenal takut atau sangat termotivasi, atau hanya gila saja …

“Bicara soal itu, Bell, Kamu baik-baik saja? Kudengar Guild melemparkan buku itu padamu dan Hestia-sama . Hukumannya seharusnya cukup berat.”

“ Ah — ya … ”

Tepatnya, penalti dikenakan pada Familiaku dan Familia Hermes-sama.

Hestia-sama dan Hermes-sama dipanggil ke Guild untuk memberikan informasi tentang insiden itu. Hal itu terjadi ketika palu peradilan jatuh.

Sepenuhnya mengabaikan penjelasan Mereka, Guild menyatakan insiden ini sebagai “Bencana” —sebuah bencana di mana para Dewa bertanggung jawab secara langsung. Keduanya menerima peringatan keras dan juga hukuman yang keras.

Adapun penaltinya … Itu baik-baik saja.

“Berapa harganya, Bell-sama?”

“Setengah … Setengah dari aset Familia kami.”

“… Aduh.”

Sebaliknya, kami sudah bisa lepas dengan mudah.

Guild tahu bahwa Hestia Familia masih sangat muda dan kami tidak mempunyai banyak tabungan. Kami hanya didenda beberapa ribu vals — meskipun begitu kami masih mempunyai cukup sedikit uang.

Item yang tersisa setelah pertempuran dengan bos lantai, Goliath Hide, sebenarnya dipaksakan ke diriku selama kegilaan dari kemenangan kami … Itu mungkin cukup banyak untuk menutupi penalti itu. Namun, aku tidak akan pernah melupakan Kami-sama yang sedang berjalan perlahan ke Guild, serta membawa banyak uang, dan air mata menetes di wajah-Nya saat Dia gemetaran kesana.

Di sisi lain, yang harus dilalui oleh Hermes-sama benar benar mendekati dengan yang namanya tragedi.

Anggota Hermes Familia terlibat dalam berbagai bidang dan memiliki lebih banyak aset daripada kami.

Jumlah uang yang mereka harus serahkan kepada Guild membuat seolah olah denda kami hanyalah uang yang tidak penting bagi Guild dibandingkan dengan uang mereka sebagai perbandingan.(S:Njir, seberapa banyak tuh duit untuk bayar denda).

Raut wajah pucat Hermes-sama yang kurus sambil tertawa menderita masih belum bisa meninggalkan pikiranku. Semua yang dilakukan Asfi-san hanyalah mendesah.(S:ngenes banget nasib Hermes Familia)

Aku mencoba sebaik mungkin untuk tersenyum kembali setelah melihat ekspresi kaget di wajah Welf setelah aku bercerita seperti apa nasib dari Hermes Familia.

“…?”

Kami menikmati makanan kami setelah itu, sambil dikelilingi oleh suara suara keras dari pelanggan lain.

Tiba-tiba aku memperhatikan bahwa ada sesuatu tentang Lilly yang tampaknya tidak ada di dalam dirinya. Maka aku berpaling kepadanya dan bertanya:

“Lilly… apakah kamu merasa baik-baik saja?”

Berpikir lagi, dia tidak seperti biasanya pada malam itu.

Dia terlihat lesu dan seolah olah sedang mencari ke mana-mana … Apa itu? Sepertinya dia sudah putus asa untuk tidak melihat diriku. Dia ada di sini secara fisik, tetapi kupikir secara mental dia ada di tempat lain.

“Maaf, Bell-sama. Lilly melamun.” Dia menanggapi kekhawatiran di dalam suaraku dan membuat senyuman untuk meyakinkanku bahwa semuanya baik-baik saja. “Reputasi Bell-sama telah meningkat pesat dalam beberapa hari terakhir ini. Setidaknya, para petualang yang menyaksikan pertempuran itu tahu kekuatan Bell-sama. ”

“ I-itu hebat… ”

Itu adalah usaha yang terlihat jelas sedang mengubah topik pembicaraan. Aku dengan canggung mengangguk ke arahnya.

Aku melihat ke arah Welf dari sudut mataku. Dia juga memperhatikan Lilly. Dia melihat Lilly dari atas cangkirnya. Dia meletakkannya kembali ke atas meja dan bertemu dengan tatapanku. ‘Sekarang bukan waktunya’ , dia berbicara padaku dengan mengangkat bahunya.

Lilly, di dalam wujud Werewolfnya, menggoyangkan ekornya maju-mundur, berusaha untuk terlihat energik. Aku yakin Welf benar.

“—Lihat ini, beberapa ‘kelinci’ baru saja menjadi terkenal dalam semalam!”

Suara yang nyaring menembus keributan itu.

Itu datang dari seorang petualang yang duduk di meja yang ada di samping kami.

Petualang prum itu, berbicara lebih keras daripada yang dia perlukan, memegang gelas di satu tangan dan duduk di meja bersama lima orang lainnya.

“Pemula itu memang punya keberanian! Tidak peduli apakah dia benar-benar seorang pemegang rekor, sungguh menakjubkan orang orang menelan semua kebohongan itu! Aku tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu dalam sejuta tahun kalipun! ”

Suaranya memiliki nada seperti seorang anak laki-laki dan kelihatannya memenuhi bar dari sudut ke sudut. Aku bisa merasakan mata pelanggan lain mulai fokus pada kami, karena kami bertiga melirik meja itu .

Sebuah busur emas dan panah di depan sebuah orb yang terbakar … Bukan, itulah gambar matahari di lambang mereka.

Semua enam petualang, termasuk prum itu, memiliki simbol itu di suatu tempat di pakaian mereka. Mereka semua berada di Familia yang sama.

Prum itu bersandar di kursinya dan meneguk bir lagi. Mata kami bertemu dan bibirnya melengkung ke atas. “Pokoknya, aku dengar dia sangat mahir dalam melarikan diri. Itu pasti bagaimana caranya dia bisa naik level — dia lari dari Minotaur itu sampai pingsan karena dia kelelahan. Itu kelinci ya! Benar benar berbakat! ”

Nada suaranya … benar-benar membosankan. Apakah itu sebuah penghinaan ?

Prum dikenal karena mata besar mereka, dan yang satu ini tidak terkecuali. Dia terus berbicara dengan sangat keras, hampir seperti dia ingin aku mendengarnya. Para petualang lain di meja tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Bahkan, mereka terlihat sangat terhibur.

Tentu saja aku tidak suka dengan apa yang dilakukan orang ini … tetapi aku memutuskan untuk tutup mulut.

‘Lebih baik untuk menghindari konflik antar Familia’ . Kami-sama mengatakan kepadaku tentang itu di hari ketika diriku pertama kali bergabung, dan Eina-san mengebornya ke kepalaku setelah itu.(S: dibor aja biar greget). Aku memiliki niat untuk selalu mengikuti saran mereka.

Di atas itu, aku tidak memiliki kemarahan atau keberanian untuk mengatakan apa pun kembali atau melakukan apa pun tentang hal itu. Sungguh menyedihkan, aku tahu, tetapi itu benar.

Aku mendengar tertawaan mereka yang mengejek diriku, tetapi aku berusaha sebaik mungkin untuk mengabaikannya.

Para pelanggan lain di bar sepertinya mengharapkan sesuatu. Aku dapat merasakannya di dalam tatapan mereka.

“Oh, kamu tahu apa lagi? Kelinci itu juga bergabung dengan dua potongan acak dari sampah! Seorang pandai besi yang telah gagal dan seorang supporter yang lemah. Party itu sangat tidak seimbang aku terkejut mereka bahkan bisa berdiri! ”

Aku membalikkan punggungku ke meja mereka dan melihat Lilly dan Welf. Keh-keh-keh. Orang-orang dalam kelompok mereka tertawa lebih keras secara bersamaan dengan terkekehan dari prum itu.

Bahuku mengejang.

Aku tidak bisa mengabaikan kata-kata itu. Aku tidak bisa tidak mengepalkan tinjuku setelah mendengar teman-temanku dihina begitu saja.

Aku berputar di sekitar kursiku untuk menghadapinya. Segera, Welf dan Lilly memegang tanganku.

“Santai, jangan khawatir. Biarkan mereka mengatakan apa pun yang mereka inginkan. ”

” Bell-sama, jangan dengarkan mereka. ”

Welf memiliki kepala yang cukup dingin sehingga dia mengambil minuman lain dari gelasnya. Lilly terdengar seperti dia sedang memarahiku.

Sudah lama sejak diriku merasakan amarah merah yang kuat ini. Namun, berkat Welf dan Lilly, amarahku surut, dan aku berhasil mengendalikan diri.

Kami ada di bar, dan aku sudah minum. ‘Aku mungkin sedikit mabuk’ . Aku berkata pada diriku sendiri berulang-ulang seperti itu, menarik napas dalam-dalam beberapa kali, dan mencoba untuk bersantai.

Kemudian, prum itu mendecak lidahnya ke arah kami seolah-olah dia kecewa karena kami telah menahan emosi kami. Kata-kata berikutnya mengambil lebih banyak nada kasar.

“Aku juga tahu bahwa Familia-nya dipimpin oleh seorang Dewi yang tidak layak bahkan sedikit pun tidak layak untuk diberi rasa hormat. Kamu harus sangat lemah dan bodoh untuk bergabung dengan Dewa yang memalukan seperti itu !! ”

– Pada saat itu, percikan api muncul di bidang penglihatanku.

Aku melompat sambil berdiri, kursiku terbang kebelakang.

“Tarik kembali!” Aku teriak.

Melupakan diriku sendiri , suara yang meledak-ledak keluar dari mulutku.

Telingaku samar-samar mendengar suara kursiku yang jatuh ke bawah saat aku sedang memelototi belati si orang prum itu.

Lilly menatapku, dan kehilangan kata-kata. Itulah betapa marahnya diriku.

Kami-sama — satu-satunya orang dalam hidupku yang aku hargai lebih tinggi daripada yang lain — baru saja dihina. Tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa membuatku marah sebanyak ini. Dia adalah keluargaku, Dewiku, dan bajingan ini memandang rendah pada-Nya, berbicara tentang Dia seolah olah Dia itu seperti sampah.

Setiap orang di bar menatapku dengan diam. Aku tidak tahu apakah prum kecil itu telah kehilangan keberaniannya, dia menatapku saat aku berada di atasnya. Ada tanda ketakutan yang tak salah lagi di matanya.

Entah bagaimana, dia memaksa bibirnya untuk mencemooh dan berkata dengan suara gemetar:

“L-lihat? Tepat sasaran. Tidak tahan dengan rasa malu, ya? ”

Whoosh! Darah mengalir ke kepalaku sekaligus.

Dikuasai oleh gelombang emosi ini, tubuhku bergerak sendiri.

“Jangan lakukan itu, Bell-sama!”

Suara Lilly tidak bisa menghentikanku sekarang. Tanganku dendam ke leher bajingan ini.

Satu detak jantung sebelum aku dapat menahan diriku — semburan udara tiba-tiba datang.

Sebuah kaki sedang menendang di depan pandanganku — buk — dan menguburkan wajah si prum itu.

“Bmmph ?!” Prum itu mengeluarkan jeritan kesakitan saat dia dan kursinya jatuh ke lantai.

Sebuah aliran darah mengalir dari hidungnya yang patah saat matanya berputar kembali ke kepalanya dan beberapa bagian tubuhnya mulai bergerak gerak. Dia ternyata pingsan .

Bar itu sekali lagi terdiam ketika laki laki yang melemparkan tendangan itu dan juga yang merampas targetku, Welf, berdiri dengan satu kaki di sebelahku.

Kaki kanannya masih terulur ke depan ketika setiap pasang mata di bar melihat hal itu.

Apakah dia melindungiku? Apakah dia sama marahnya denganku?

Aku menatapnya dengan tidak percaya. Welf menyengir. “Kakiku barusan tergelincir,” katanya dengan lancang.

Dia menyempitkan matanya dan menyeringai pada petualang lainnya di meja. Sepertinya tindakannya adalah sinyal.

Rekan-rekan sang Prum itu berdiri sekaligus.

“Dasar bajingan!”

“Sekarang kau sudah melakukannya !”

Salah satu petualang menendang meja, membuatnya berputar di udara. Suara makanan yang hancur langsung bergema di seluruh bar, disertai dengan jeritan para karyawan . Para petualang itu melempar semuanya dari jalan mereka dengan gila ke arah kami. Sementara itu, Welf menyeringai dan mengendurkan lengan kanannya dengan beberapa ayunan tinjunya.

Butuh waktu beberapa detik supaya diriku kembali sadar, tetapi aku mengatasi salah satu dari mereka yang mencoba menyerang Welf dari samping.

____Waaa !! Suara pelanggan lainnya meletus dengan keras. “Kenapa, kenapa selalu petualang ?!”

Suatu semangat baru muncul di bar yang tertutup . Suara Lilly entah bagaimana berhasil terdengar ketika pukulan dan tendangan dilontarkan ke segala arah.

Ini adalah pertengkaran habis-habisan. Semua meja dan kursi dalam jarak dekat langsung disingkirkan dari jalan saat kami melibatkan petualang yang suka mengganggu untuk kesenangan dan hasutan dari pelanggan bar. Gelas dan botol berada di tangan mereka, mereka dengan cepat mengelilingi perkelahian itu dalam waktu singkat.

Aku membungkuk, menghindar dan menyerang balik di situasi yang begitu ricuh yang seolah olah terlihat menyala ketika di malam hari. Welf sekarang Level 2, jadi dia mampu menahan sendirian keempat penyerang di sekitarnya lebih dari satu kali. Dia harus terbiasa dengan pertarungan seperti ini. Satu petualang menyerangnya, tetapi dia hanya tersenyum sebelum mengirim orang itu terbang ke belakang dengan pukulan yang mengesankan. Aku bergerak ke perkelahian itu, menunduk ke lantai, dan menyapu kaki kananku ke depan. Aku menyergap orang yang terlihat seperti hewan di belakang lututnya dan dia jatuh di pantatnya dengan keras “Gah!”

Aku membungkuk lagi, dan menghindari pukulan dan tendangan yang lebih banyak ketika Welf dan aku menggunakan formasi dasar untuk menindas lawan kami, seperti posisi penyerang depan dengan dukungan dari posisi tengah dalam pertarungan melawan monster dengan formasi tiga orang di Dungeon.

“…”

Para penonton kami semakin heboh ketika formasi dua orang milik kami mengalahkan kelompok empat orang milik mereka.

Namun, orang terakhir dari rekan prum itu memilih momen ini untuk melakukan gerakannya.

Dia sudah duduk di kursinya selama ini, dan dengan tenang meminum apa yang tersisa di gelasnya. Prang! Dia melemparkannya ke lantai dan berdiri. Gerakannya cepat dan mempesona — tentu saja, aku bingung dan tidak dapat mengamati terlalu teliti, tetapi aku masih memperhatikan — saat dia mendekati Welf.

Pria itu meraih lengan Welf yang terulur tepat sebelum dia melihat wajah petualang lain, menarik punggung Welf dengan satu tangan, dan membalik punggung Welf.

“Uwah!”

“Welf ?!”

Gelombang kemarahan yang baru langsung menguasaiku saat aku melihat Welf terjatuh. Aku secara langsung menyerang penyerang Welf begitu saja.

Aku melancarkan pukulan demi pukulan, tetapi dia terus menghindar dengan mudahnya— aku melihat sekilas senyuman sombongnya di antara tinjuku.

Tiba-tiba tubuhnya menjadi buram. Cuman seperti itu, pukulanku tidak mengenai apa pun dan hanya mengenai udara saja.

“-”

Aku sangat percaya diri dengan kecepatan dan kelincahanku, tetapi rasanya dia mencoba untuk menunjukkanku sesuatu. Dia pun menertawakan diriku.

Aku akhirnya dapat menyelaraskan gerakannya di dalam pandanganku dan aku melompat ke depan, hanya untuk merasakan rasa sakit yang tiba-tiba muncul tepat di bawah dadaku. Mataku terbuka kesakitan dan aku menyadari bahwa dia mengubur lututnya di perutku.

Dia meraih tubuhku di udara dari pundakku dan memaksakan kepalaku ke atas .

Tinjunya yang datang memenuhi penglihatanku seperti sebuah bongkahan batu yang sedang mendekat. Bintang-bintang meledak tepat di depan mataku.

“Bell-sama ?! ”

Aku terbang ke belakang .

Para petualang yang menyaksikan perkelahian kami menghindar dari arah jatuhku dan aku menabrak ke salah satu meja bundar yang ada di belakang mereka. Jeritan Lilly bercampur dengan suara serpihan kayu yang pecah karena tabrakanku.

Wajahku terasa panas. Aku mengenai punggungku dan sebuah meja rusak di bawahku. Sampai hidungku berdarah karena tabrakan itu, entah bagaimana aku berhasil mengangkat kepalaku dari lantai.

“Itu hanya sebuah ketukan cinta.”

Dia dengan tenang berdiri di sisi lain dari meja yang sudah hancur itu, dan menjulang di atasku.

Dia adalah seorang petualang yang tinggi dan langsing. Pria itu cukup tampan untuk menyaingi para elf.

Rambut cokelat panjangnya terawat dengan baik dan ditata rapi. Kulit pria itu halus dan putih, hampir seperti seorang wanita. Dia memakai semua jenis dari aksesori pada seragam Familia-nya, termasuk beberapa anting emas. Matanya yang biru dan luas seperti laut hanya terfokus padaku.

“Itu … Hyacinthus.”

“Anak yang Disukai Matahari, Phoebus Apollo …”

“Dia Level 3, seorang petualang tingkat kedua ?!”

Banyak suara tiba-tiba memenuhi bar, sebuah topan dari rasa shock dan kejutan memenuhi bar itu. Tapi telingaku mendengar sesuatu yang membuat jariku sendiri mati rasa.

Level 3 — petualang kelas atas, dan juga petualang tingkat kedua.
(note:kalau bingung perbedaan dari petualang kelas atas dan tingkat kedua silahkan baca disini)

Orang ini berada di tingkatan yang ada di atasku.

“Kamu orang yang penuh semangat, Little Rookie.” Hyacinthus — menurutku itu namanya — memiliki suara yang bernada tinggi untuk seorang pria.

Mata birunya meninggalkanku dan melihat sejenak ke pria prum itu, yang masih bergerak-gerak di kursinya yang patah. Dia melihat ke arah lain, dan tubuh rekan-rekannya yang tumbang dicerminkan dengan jelas di matanya. Dia satu-satunya petarung yang masih memiliki kekuatan untuk berdiri.

Lilly bergegas mendekat untuk membantuku, tetapi aku tidak bisa berdiri ke atas bahkan dengan bantuannya. Welf telah berdiri kembali ke atas. Pria itu hanya berdiri di sana, menatap kami dalam diam. Semua energi semangat yang telah mengisi kedai beberapa saat yang lalu tampaknya akan hilang dalam sekejap.

<Hyacinthus>

Otot-otot di wajahku mulai tegang, darah menetes dari daguku ketika pria itu memperbaiki rambutnya.

“Kamu telah melukai teman-temanku. Ini pelanggaran serius. Kami akan menerima kompensasi yang sesuai. ”

Mata birunya terlihat bersinar dengan sadis. Aku yakin itulah yang kulihat. Dia menyeringai padaku lagi dan mengambil satu langkah lagi ke arahku seolah-olah untuk memberikan pukulan akhir. Saat itulah orang lain membuat kehadirannya sendiri diketahui. Satu sentakan dari serpihan lain mengenai telingaku saat meja lainnya ditendang ke dinding.

“!”

Setiap kepala di bar terkunci ke arah itu.

Sosok pria werewolf berwarna abu-abu duduk di sebuah kursi dan menyapa mata kami semua. Kakinya perlahan turun setelah menendang meja.

“Enyahlah, kentang goreng kecil, kalian tidak pantas.” Werewolf itu membentak seolah-olah kesal dan gatal untuk bertarung, tato wajahnya berdesir.

Sebuah perasaan cemas dengan cepat menyebar ke seluruh bar. Telinga werewolf itu dan ekornya bergerak gerak, mengungkapkan kalau moodnya sedang buruk. Aku tahu dia. Aku hanya tidak bisa mempercayai itu.

-Orang itu.

Malam itu masih belum memudar dari ingatanku. Kejadian di bar itu yang menjadi motivasiku untuk mengejar seorang ksatria wanita, gadis yang menjadi idolaku. Salah satu dari petualang Loki Familia, dia ada di sana pada hari dimana aku tanpa ampun dikejar oleh Minotaur.

Aku pikir namanya … Bete?

“Itu salahmu karena bir piss-weak ini mulai terasa busuk juga. kamu telah membuat desas-desusku, kamu tolol menjijikkan. Keluar dari pandanganku”

Dia dan beberapa petualang lainnya yang ada di sekitarnya semuanya mengenakan emblem“ Tricster ”—-Emblem dari Loki Familia. Semua petualang di sekitarnya berdiri kagum pada grup dari Familia terkuat di Orario, dan juga takut dengan pemimpin dari grup istimewa ini, sang Werewolf.

Sementara dia jauh lebih kasar dan keras daripada Aiz-san atau yang lainnya, dia memiliki aura kekuatan yang sama. Aku yakin orang-orang di sini telah mengetahui betapa berbahayanya orang ini.

Hanya pria tampan itu yang bisa berbicara, atau bahkan tetap tenang saat dia mengangkat bahunya. “Hmm … Sungguh kasar. Ternyata Loki Familia sudah ceroboh. Dari semua hal mereka malah lupa memasang tali pada anjing mereka sendiri.”

Mata Bete yang berwarna amber langsung menyipit, amarahnya terlihat membara saat dia melotot pada pria itu.

“Mau terbelah dua, bocah cantik?” Werewolf dan manusia itu saling berhadapan.

Ketegangan di sini benar benar mencekik. Waktu berhenti sebelum orang yang tampan itu memutuskan kontak mata terlebih dahulu.

“Aku kehilangan minat dalam hal ini,” katanya sambil berbalik. “Kami akan pergi,” dia memberitahu rekan-rekannya saat dia berjalan menuju pintu keluar sendirian. Empat dari mereka entah bagaimana berhasil berdiri di kaki mereka, meminjamkan satu atau dua pundak mereka ke prum yang tidak sadarkan diri, dan mengikuti pemimpin mereka keluar dari pintu.

Yang terakhir dari mereka akhirnya sudah pergi, keheningan yang tenang jatuh di dalam bar.

… Apakah dia barusan … membantuku?

Loki Familia memaksa kelompok petualang lain untuk keluar … Demi hidupku, aku tidak tahu mengapa Bete-san akan melakukan hal seperti itu.

Pikiranku berhenti berlari dan aku menyeka darah kering dari wajahku … Perlahan tapi pasti. Sang Werewolf melangkah maju; dia datang ke diriku.

“Eh?” Keluar dari tenggorokanku yang tiba-tiba saja menjadi sesak, dan aku bukan satu-satunya. Petualang yang menyaksikan perkelahian kami tidak membuang waktu untuk keluar dari jalan Bete. Pantatku masih di lantai saat aku melihat sosoknya yang mengesankan. Dia berhenti tepat di depan kakiku.

Jantungku ku bergetar. Perasaanku yang dibuat menjadi bahan tertawaan di malam itu membanjiri pikiranku.

Dia membuatku merasa seperti orang bodoh di depan Aiz-san. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa lari. Rasa keputusasaan itu mengancam untuk mengambil alih pikiranku sekali lagi ketika tiba-tiba aku melihat tangan kirinya menarikku.

Dia mengulurkan tangannya — tetapi tidak ada waktu untuk melakukannya. Dia meraih kerahku dan dengan paksa menarikku.

Aku tidak bisa bernapas.

“—Ketahui tempatmu berada.”

Dia menarikku ke wajahnya, dari hidung ke hidung.

Kemarahan yang membakar di matanya sungguh luar biasa. Tidak ada suara yang keluar dari mulutku; Aku harus mengangguk. Aku bisa merasakan sebuah kekuatan berdenyut di jari-jarinya. Hanya menjaga kontak mata saja sungguh menakutkan. Lalu dia membiarkanku pergi, menjatuhkanku di tempatku berdiri. Dhuak! Rasa sakit langsung muncul di kakiku dan di punggungku begitu aku membentur lantai. Mulut Bete-san berkedut sebelum dia berbalik dan berjalan menuju pintu itu sendirian, amarah memancar dari punggungnya. Ekornya terlihat seperti api berwarna abu-abu di belakangnya.

Sisa petualang dalam kelompoknya dengan cepat melompat ke langkah mereka sendiri . Salah satu dari mereka memberikan sejumlah uang di konter ketika semua dari mereka mengikutinya ke luar.

Pertama pria tampan dan kelompoknya, lalu Loki Familia juga meninggalkan Hibachitei.

“Apakah kamu baik-baik saja, Bell-sama?”

“Sialan mereka, apa yang mereka coba lakukan…?”

Lilly duduk di sampingku saat Welf memijat punggung bawahnya, mata masih tertuju ke pintu.

Aku mengangguk ke arah Lilly dan melihat tatapan Welf. Pintunya masih terbuka. Aku bisa melihat jalan belakang yang gelap dan bahkan melihat langit malam. Aku menyentuh wajahku dan langsung merasakan sakit di sepanjang bibirku yang bengkak.

Karyawan bar sudah bekerja keras, membuang kursi dan meja yang rusak dan menyapu serpihan-serpihan yang mengotori lantai.

Hanya kami yang tersisa, tapi tidak ada yang tahu apa yang seharusnya kami katakan.

Sedikit waktu telah berlalu sejak tawuran di Hibachitei.

Welf, Lilly, dan aku telah pergi ke ruang tersembunyi di bawah gereja tua, rumah Hestia Familia.

“Ohh, jadi ada perkelahian,” kata sang dewi dengan tenang sambil menggosokkan krim medis ke wajahku – itu barang murah, jadi siapa pun di Orario bisa membelinya. Wajahku tegang setiap kali jari-jarinya melewati salah satu dari banyak potongan dan goresanku.

Kami di sini untuk menjelaskan kepadanya dengan kata-kata kami sendiri tentang apa yang terjadi dan menyembuhkan pada saat yang sama. Kami tidak terluka parah, tetapi sang dewi sangat terkejut melihat kami tertutup gundukan debu dan memar ketika kami tiba. Lilly menceritakan apa yang terjadi dan sang dewi tampaknya menerima penjelasannya. Kami meminta maaf kepada pemilik bar setelah pertarungan dan memberi tahu dia bahwa Hestia Familia akan membayar kerusakannya.

“Ternyata kamu sedikit lebih ribut dari dugaanku, Bell. aku agak senang tentang itu, tetapi itu membuatku sedih juga … ”

“Mr. Bell telah bertindak seperti Mr. Welf! Mr. Bell bersikap lebih dan lebih seperti petualang kasar sejak dia bertemu Tuan Welf! ”

“Hei, hei, kamu tahu itu tidak benar … Tunggu sebentar, harus ada cara yang lebih baik untuk mengatakan itu!”

Jari-jari lembut dewi meluncur di wajahku saat kami duduk berdampingan di tempat tidur. Lilly dan Welf berada di sofa tepat di sebelah kami. Mereka berdua bertengkar sejak Lilly mengklaim itu hanya seorang idiot yang akan menyia-nyiakan ramuan untuk pulih dari perkelahian di bar dan mulai menghambur-hamburkan Welf luka dengan salep yang sama yang digunakan dewi padaku.

Lilly memiliki aura superioritas sejak kami meninggalkan bar. “Lilly tidak percaya ini … ini kembali untuk menghantui kami … Tolong pertimbangkan betapa khawatirnya Lilly. ”Dia terus mengulang dirinya di bawah nafasnya.

Sang dewi mendengarkan apa yang dia katakan dan melakukan yang terbaik untuk tersenyum pada kita.

“aku terkejut padamu, terlibat perkelahian seperti ini. Kemudian, kamu laki-laki, Bell. ”

“…”

Jari-jarinya yang tipis lembut saat dia menggosok lebih banyak krim ke wajahku. aku merasa sangat buruk untuk membuatnya khawatir, tapi aku tetap diam. Puas dengan perlakuanku, sang dewi mengambil tangannya dan menatapku dengan tatapan serius.

“Namun, perkelahian bukanlah hal yang baik! Itu seperti yang dikatakan pendukungmu. kamu menyadari kamu benar-benar terluka kali ini! ”

aku biarkan dia selesai dan kemudian segera berdiri. Segala sesuatu yang terjadi di bar, semua kemarahan, aku tidak bisa menyimpannya lagi.

“Tapi orang-orang itu — mereka menghinamu!”

Ini mungkin pertama kalinya aku pernah membalasnya. Lilly dan Welf membeku dan menatapku.aku tidak akan peduli jika mereka menghinaku — aku bisa mengambilnya.

Namun, mereka mengejar orang-orang yang aku sayangi — mereka menghina dewiku. Dia tidak bisa mengharapkan aku untuk membiarkan slide itu.

Dewiku telah memberiku begitu banyak, dan lelaki preman itu membuatnya menjadi tidak lebih dari kotoran di bawah sepatu seseorang. Aku mengatupkan mataku dalam upaya untuk menahan air mata agar tidak keluar dari kemarahan yang terbangun di dalam diriku. Sang dewi menatapku dengan mata biru yang tak berkedip.Dia hanya menatapku sejenak sebelum senyum kecil muncul di bibirnya.

“aku senang kamu akan mendapatkan kemarahan ini demiku. Tetapi melakukan hal itu menempatkan kamu dalam banyak bahaya dan itu membuatku lebih sedih. ” Nada lembut sang dewi sangat kontras dengan tubuhku yang gemetar karena marah.

“Aku mengerti perasaanmu, Bell. Jika itu sebaliknya dan seseorang menghinamu, aku sudah cukup gila untuk menghirup api. Tapi jika aku bertengkar dan kembali terluka seperti yang kau lakukan hari ini, bagaimana perasaanmu? ”

“… Aku ingin menangis.”

“Lihat? Itu yang aku rasakan. aku tahu itu tidak adil, tetapi tolong jangan marah jika kamu mendengar seseorang berkata sesuatu yang buruk tentangku. Dewa paling bahagia ketika anak-anak mereka sehat. ”Lalu dia tersenyum padaku. “Buat lelucon di lain kali. Sesuatu seperti ‘yang tidak membuat aku marah, dia besar hati ‘atau sesuatu seperti itu. ”

Sang dewi … Kata-kata dewiku mendinginkan kepala panasku. Dia dengan lembut menerima semua kemarahan dan kemarahanku, berisi itu, dan membantu aku melepaskannya.

Senyumnya mengungkap simpul-simpul emosi yang telah terbangun di dadaku.aku terdiam, mengangguk, dan meminta maaf. “aku akan tahan dengan itu lain kali … aku minta maaf.”

Aku melihat ke lantai saat aku berjanji sebelum menatap wajahnya. Dia tersenyum lebar — benar-benar berseri-seri, seperti nyala api yang sehat di perapian.

Ketuk, ketuk. Dia menepuk tempat tidur di sebelahnya. aku melakukan apa yang dia minta dan duduk di tempat tidur. Dia lembut menggerakkan jari-jarinya ke rambutku. aku mulai memerah, tetapi aku tidak pindah.

Lilly dan Welf mengawasi kami berdua. Mereka tidak melakukan apa pun untuk mencoba dan menyembunyikan kegirangan  mereka. Suasana tenang dan hening mengisi ruang tersembunyi di bawah gereja tua yang rusak.

“Lilly khawatir tentang bagaimana Familia lain akan merespon. Akan lebih baik jika mereka tidak memegang dendam dan datang pada Tuan Bell. ” Sang dewi telah menggosok kepala dan pundakku dan hendak bersandar untuk memeluk ketika Lilly menyuarakan keprihatinannya.

Welf menjalankan tangannya di atas jaket hitamnya, mencari kerusakan. Dia bahkan tidak mendongak ketika dia menambahkan, “aku yang  memulainya. Bell seharusnya baik-baik saja. ”

“Itu mungkin begitu … tapi para petualang memiliki banyak kebanggaan. Jika Familia mereka khawatir akan wajah, mungkin ada masalah. ”

“Hmm, itu poin yang bagus.” Sang Dewi memandang Lilly dan setuju dengannya. “Haruskah aku bicara dengan dewa mereka untuk mencegah masalah di jalan? ”

“Aku minta maaf, Dewi …”

aku membungkuk sedikit, tetapi sang dewi memaksa senyuman. “Oh, itu baik-baik saja. Tahukah kamu dari Familia mereka berasal? “dia bertanya padaku.

“Um, kurasa …” Aku mencoba mengingat semuanya sebelum pertarungan dimulai dan mengingat detailnya. Aku teringat, dan aku memberitahunya. “… Mereka mengenakan lambang matahari.”

Lambang-lambang emas bertulisan matahari terbit di bawah sinar bulan yang mengalir turun dari langit malam tanpa awan. Mereka berkumpul di lorong gelap, jauh dari cahaya lampu-lampu batu ajaib.

Sekelompok terdiri enam orang yang terdiri dari manusia, hewan, dan prum menemukan jalan mereka ke salah satu gang yang tak terhitung jumlahnya di kota Orario..

“Beri aku istirahat, Hyacinthus. Kenapa aku harus selalu melakukan bagian yang buruk …? ”

“Hee-hee, jangan seperti itu, Luan. Kamu bisa menjadi bintang. ”

Hyacinthus menyeringai ke arah lelaki kecil itu, yang masih memiliki garis boot yang jelas di wajahnya. Anggota kelompok lainnya tertawa, semakin merusak ego prum mereka.  petualang prum bernama Luan memiliki wajah yang muda. Pipinya yang halus berkedut karena ketidaksetujuan dari peran yang baru saja dia ditugaskan.

Bibir Hyacinthus meringkuk menjadi seringai cerdas saat dia mengambil kesedihan di wajah prum tersebut.

“Ada gangguan yang tidak terduga, tetapi kita mencapai tujuan kita …”

Suara-suara kehidupan malam Orario yang semarak jauh. Pemuda tampan itu tersenyum penuh ketika dia menyebutkan nama dewanya.

“Lord Apollo akan sangat senang.”

Anting emasnya sedikit bergetar dalam kegelapan. Hyacinthus mendongak dan menyipitkan mata ke bulan cemerlang, menyinari matahari malam yang cerah ini.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *