Eighty Six Vol.1 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Ksatria Tanpa Kepala

Semua pasukan di skuadnya telah tewas, dia sendiri bersembunyi di jalanan kota yang ditinggalkan, dan ketika malam tiba, salju mulai turun.

Shinn berada di sebuah perpustakaan yang terbengkalai, menyandarkan punggungnya pada “Juggernaut” yang memiliki banyak tanda di armoe, unit yang sejak saat pertama kali dikerahkan dalam wajib militer setahun yang lalu, dalam keadaan mengantuk saat ia menunggu fajar.

Untuk tubuh kecil berusia dua belas tahun, dinginnya malam bersalju hampir tidak bisa ditolerir. Perpustakaan tidak runtuh, karena tembok tebal menahan pijakan mereka. Ia menemukan sebuah selimut tipis di arsip perpustakaan yang tidak berjendela, dan membungkusnya dengan dirinya sendiri. Masih berkeliaran di sekitar reruntuhan sampai beberapa saat lalu, memulai perjalanan mereka untuk menghindari kehabisan energi dan terkubur salju, jadi ia harus bisa kembali ke markas dengan selamat saat siang tiba. Untuk beberapa alasan, bagaimanapun, “Scavenger” milik skuad lamanya, yang ia panggil Fido, selalu begitu menempel padanya, dan selalu menemukannya terlebih dahulu.

Tiba-tiba, ia diberi isyarat oleh seseorang, dan membuka matanya.

Sejak ia melarikan diri dari kematian, ia bisa mendengar suara orang mati. Tidak seperti sesuatu khas, bagaimanapun, ia tidak mendengar suara apa pun, malah merasa ia sedang memberi isyarat.

Itu adalah panggilan yang telah lama lenyap, yang menurutnya tidak akan pernah ia dengar lagi.

Ia tertarik ke sana, dan pergi keluar.

Jalan-jalan hitam dan batu abu-abu gelap sebagian besar tertutup warna putih bersih, meninggalkan siluet. Salju tanpa suara, tak bernapas, hujan di wajahnya, berkibar dan menumpuk, mewarnai jalanan, puing, dan bahkan malam yang hitam, seolah-olah iblis putih diam-diam mengamuk. Pemandangan indah nampaknya telah memutihkan jiwa.

Melewati jalanan bersalju dan puing-puing, ia sampai di alun-alun pusat kota.

Dan di tengahnya ada sebuah Gereja, salah satu dari dua terguling, dan di atas putihnya salju, nampaknya ada rangka besar yang berdiri di kegelapan. Ia tiba dihadapan itu.

Sebuah “Juggernaut” rusak telah runtuh di tanah, seperti kerangka jatuh.

Kanopi telah hilang, tidak terlihat di mana pun, dan yang tersisa hanyalah armor yang telah rusak akibat cuaca; ia hampir tidak bisa melihat tanda pribadi seorang ksatria kerangka tanpa kepala.

Ia menginjak-injak salju saat ia mendekatinya, melihat ke kokpit.

“…Kakak.”

Bagaimana dia tahu? Kalaupun ia ditanya, ia tidak bisa menjawab, selain mengatakan bahwa ia tahu. Shinn hanya yakin bahwa itu adalah fakta, dan tidak perlu alasan atau pertimbangan untuk menjelaskannya.

Kokpit hitam yang sempit perlahan terisi warna putih. Ia menundukkan kepalanya, dan menemukan tulang belulang pudar dari kakaknya terbaring di dalam, dengan kepalanya yang hilang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *