Eighty Six Vol.1 Chapter 5 Bahasa Indonesia

Mini nomen est, quia multi sumus (Latin) – My name is Legion, for we are many (Eng)

Lena terbangun saat mendengar pemberitahuan pesan dari PDA-nya, duduk tegak, dan meregangkan tubuhnya. PDA tetap aktif, layar holografik menunjukkan gambar diam dari kamera senapan, dan cetakan laporan pertempuran membentuk lautan kertas.

Jendelanya menghadap ke timur, dan sinar matahari menerangi tirai, menyinari ruangan. Ia mengambil jubah tipis di atas selimut yang terbuat dari bahan hampir transparan, memakainya, menyisir rambutnya hanya dengan tangannya, dan turun dari tempat tidur.

Ia membuka pesan, dan menemukan pesan itu dari Arnett.

“Bulan depan adalah hari peringatan Revolusi. Ayo pilih gaun pesta saat libur berikutnya.”

Setelah terdiam beberapa saat, ia mengirim balasan,

“Maaf. Sedikit sibuk akhir-akhir ini. Lain kali aja deh.”

Arnett dengan cepat menanggapi.

“Begini, Lena, kau jarang keluar.”

Dan kemudian Arnett mengirim pesan lain,

“Bahkan jika kau bekerja keras untuk Para Delapan Puluh Enam, kau tidak akan mendapatkan apapun, kau tahu?”

Lena memalingkan muka, dan melirik ke belakangnya.

Ia telah menganalisis catatan pertempuran Skuad Spearhead sampai ia tertidur. Laporan pertempuran ringkas dan jelas. Kecekatan dan kecerdasan penulis dengan jelas disampaikan dalam laporan, yang dikirim bersamaan dengan file data dari Perekam Misi “Juggernaut.” Meskipun laporan patroli tidak memiliki konten seperti biasanya, materi yang diperoleh adalah sebuah harta karun intelijen yang biasa digunakan dalam pertempuran melawan 〈Legion〉.

Tentunya bukan tanpa manfaat.

Informasi ini pasti akan memungkinkan semua orang untuk kembali hidup.

“Maaf.”

“—Ada baiknya untuk menghadiri acara itu, kan?”

Shinn memoles senapan serbu yang biasanya diletakkan di kokpit “Juggernaut”-nya sambil dengan datar membalas orang yang ada di ujung Para-RAID. Selain kontak harian dan laporannya, mereka juga akan mengobrol dari waktu ke waktu. Laporan tersebut menyatakan bahwa seharusnya saatnya mereka berpatroli.

Sore hari, dan ia berada di tempat tidur barak. Anak kucing ke luar, karena mungkin sebaiknya menyentuh bagian pistol di kamar itu, dan karenahal itu si kucing mencakari pintu.

“Tapi bagaimana kalau mereka menyerang pada saat itu?”

Lena cemberut sebagai jawaban. Orang pasti bertanya-tanya apakah dia terlalu serius, atau apakah dia tidak fleksibel.

“Kami akan mencari tahu sesuatu.”

“Juga, tidak beralasan untuk mengadakan pesta saat perang sedang berlangsung.”

“Mungkin ada zona tertentu di tengah pertempuran. Tapi apapun di dalam 〈Grand Mur〉 tidak akan mempengaruhi garis depan.”

Ia mendorong pin kamera ke bawah, melepaskan baut, dan meletakkannya di kain yang sudah ditata. Sebuah senapan serbu akan hampir tidak merusak 〈Legion〉, tapi tentu saja tidak berarti bahwa tidak ada gunanya. Ini akan menjadi satu-satunya hal yang dapat diandalkan sebagai upaya terakhir, dan dengan demikian, pemeliharaan sehari-hari diperlukan.

“Kupikir tidak apa-apa bagimu untuk berpartisipasi. Aku berterima kasih kau bisa membantu menganalisis musuh, ini bukan sesuatu yang berharga untuk menghabiskan waktu pribadimu.”

Lena tiba-tiba terdiam begitu dia mengatakan itu,

“Apa aku melakukan sesuatu yang tidak perlu…?”

“Tidak, kau sangat membantu.”

Dia menyatakan kebenaran. Ia tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya pada Handler tak berguna yang berusaha memuaskan dirinya sendiri.

“Lagi pula, kami tahu garis depan, itu saja. Hal ini bermanfaat karena memiliki petugas yang telah dilatih militer untuk menganalisa cakupan yang lebih luas.”

“…Syukurlah”

“Tapi tidak perlu mencurahkan semuanya untuk ini.”

Shinn bisa secara praktis melihat Lena cemberut dengan sedih, ia mengeluarkan pin extractor, dan saat melakukannya, menjawab dengan nada datar,

“Kalau kau terlalu terlibat dalam medan perang, kau akan berakhir seperti kami.”

Lena menghela napas saat mendengar kata-kata Shinn, tidak yakin apakah dia bercanda atau tulus. Dia tidak berniat bercanda.

“Kau suka bercanda terus, Kapten Nouzen… mengerti. Aku akan mencoba menikmati pesta yang membosankan, atau rasa sakit saat mengenakan sepatu hak tinggi dan gaun.”

Lena membalas dengan lelucon ini, dan Shinn tampak tertawa kecil.

“Festival peringatan Revolusi, katamu? Aku ingat kejadian seperti itu.”

“Ingaat apa?”

Shinn berhenti sejenak.

“… aku ingat ada kembang api, kan? Di taman dengan air mancur, tepat di depan istana.”

Lena mengangkat kepalanya.

“Ya. Di Istana Lune presiden di zona legislatif pertama… apa kau tinggal di zona pertama sebelumnya?”

Zona pertama berisi daerah pemukiman mewah yang ada sejak era Kekaisaran, dan sebagian besar penghuni di sana berasal dari keluarga yang tinggal di sana pada saat itu… Albas, yang dulunya adalah bangsawan, merupakan mayoritas, dan bahkan sembilan tahun yang lalu , jarang melihat Colorate disana.

Mungkin aku pernah bertemu dengannya sebelumnya, pikirnya, dan ada sedikit kesedihan yang timbul di hatinya.

“Aku tidak begitu ingat, tapi kurasa itu benar. Kurasa aku pergi dengan keluargaku… saat itu, kakakku memegang tanganku.”

Ah, Lena layu kembali. Dia kacau lagi.

“Maaf.”

“…kenapa minta maaf?”

“Aku benar-benar tidak peka. Dulu juga… aku menyebut kakak dan orang tuamu…”

“Ahh.”

Lena merasa sedih, dan nada Shinn sama bosannya seperti biasanya.

“Tidak apa-apa. Aku sudah agak lupa tentang mereka.”

“Eh?”

“Aku tidak begitu ingat keluargaku. Aku bisa mengingat ini itu, tapi aku hampir melupakan penampilan dan suara mereka.”

“…”

Lena tidak berpikiran Shinn sengaja tidak sensitif.

Dia mungkin sangat muda saat mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya. Setelah itu, dia menghabiskan lima tahun lagi untuk memperjuangkan hidupnya.

Di medan perang yang kacau, mungkin diharapkan dia melupakan kenangan berharga.

Pada saat itu, ia tampak memvisualisasikan anak kesepian yang berdiri di tengah medan perang reruntuhan, tidak tahu ke mana dia harus kembali.

“—Dia bilang bahwa dia harus kembali padamu hidup-hidup.”

Lena mencoba menyampaikan kata-kata itu seakurat mungkin, saat ia mengingat kembali apa yang Ray katakan, dan penampilannya kembali saat dia mengatakan itu.

Para-RAID mengalihkan suaranya melalui kesadaran bersama, dan juga emosi percakapan secara tatap muka.

Ia berharap bisa menyampaikan perasaannya kepadanya. Ray mungkin hilang dari ingatan Shinn, tapi Lena masih mengingatnya. Ia masih bisa memvisualisasikan siluet, kata-kata, dan hati baiknya.

“Jelas dia merindukanmu, berkata ‘kau mungkin menyerah.’ Aku bisa merasakan bahwa dia memperlakukanmu sebagai keluarga penting. Kakakmu benar-benar ingin kembali padamu.”

“……Semoga begitu.”

Dia menjawab setelah keheningan yang lama ini, terhuyung-huyung dengan cara yang tidak mudah diperhatikan. Sepertinya saat dia memang berharap demikian, dia benar-benar mengerti bahwa keinginan itu tidak bisa lagi dikabulkan.

“Kapten…?”

Shinn tidak menjawab. Lena menyadari itu bukan topik yang harus disentuhnya, dan tidak mengatakan apapun. Ketukan lembut logam adalah satu-satunya hal yang terdengar dari waktu ke waktu dalam keheningan ini.

Dan begitu ia mendengar suara yang berbeda dan lebih nyaring, Lena memiringkan kepalanya.Itu…

“Kapten, apa kau lagi membersihkan senapan sekarang?”

Shinn berhenti sejenak.

“…Ya.”

“Seharusnya ini waktunya patroli, kan?”

Yang barusan tidak dijawab.

Tak heran tak ada yang penting dalam laporan patroli tersebut. Jadi Lena menghela napas.

Namun, tindakan Squad Spearhead sangat cepat, dan seseorang harus bertanya-tanya apakah mereka bisa mendeteksi 〈Legion〉 tanpa menggunakan radar. Ia belum menanyakan hal ini.

“Karena kau telah menentukan itu tidak perlu, kurasa tidak perlu… dan untuk senapannya.”

Secara resmi, para Delapan Puluh Enam dilarang memakai senapan.

“Kau sudah menentukan bahwa perlu untuk menggunakannya. Aku tidak akan berkata apapun, tapi tolong rawat dengan sesuai.”

“…Maaf.”

Lena mendengar beberapa kebingungan dalam suara itu, dan mengedipkan matanya.

“Eh, apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?”

“Tidak… kupikir kau akan marah.”

Dia terkejut sekali. Lena tersentak.

Sejak ia memimpin, ia menuntut agar dia menyampaikan laporan terperinci dan tepat waktu, dan sering meratapi rekan-rekannya di Markas Besar Militer karena terlalu longgar dan tidak dapat diatur.

“Aku… tidak akan begitu peduli tentang aturan dan hukum yang tidak berarti. Kuulangi, aku akan menghormati keputusanmu selama itu  bermanfaat untuk bertarung.”

Lagian, bukan aku yang bertarung. AKu tidak punya hak untuk berkata begituan di sini.

Ia berpikiran ini, dan menggelengkan kepalanya, mengalihkan topik pembicaraan.

“Perlu untuk menjaga senjata dengan hati-hati di medan perang. Bagi kami di sini, kami menemukan senapan serbu yang diproduksi oleh Republik terlalu berat, dan tidak ada yang benar-benar menggunakannya, bahkan dalam pelatihan pun.”

Angkatan Darat Republik membutuhkan peluru kaliber besar karena senjata yang dibutuhkan untuk memerangi pasukan lapis baja. Dengan demikian, semua senapannya adalah senapan model berat, dibuat dengan logam kokoh.

Namun, Shinn tercengang.

“Berat? Kau bilang senapan itu berat?”

Awalnya Lena tercengang mendengar suaranya yang sangat bingung, dan kemudian ia mengerti.

Ya, dia laki-laki. Berat segitu tidak mengganggunya…

Dan saat ia mengerti ini, ia merasa aneh.

Omong-omong, ia belum pernah berbicara dengan bocah seusianya sejak lama.

“…Mayor?”

Para-RAID bisa menyampaikan emosi percakapan tatap muka. Shinn mungkin bisa merasakan Lena tersipu.

“Ng-Nggak ada. Erm.”

Tiba-tiba, mood di ujung sana berubah.

Tidak ada suara, tapi Lena bisa merasakan Shinn berdiri, melihat ke kejauhan.

“… Kapten Nouzen?”

“Mohon bersiap untuk mengambil alih perintah.”

Ia melihat terminal intel yang tidak menunjukkan peringatan. Namun, Shinn terdengar yakin.

Legion datang.”

Shinn sudah disinkronkan dengan Lena, jadi Lena ikut dalam briefing skuad ini.

Begitu ia mendengar penjelasan tentang berbagai aspek, termasuk jumlah musuh, formasi, dan jalur serangan, APa mereka membuat strategi dengan begitu banyak informasi yang ada?  ia dibiarkan tercengang, dan pada saat bersamaan, ia mengusulkan sebuah strategi untuk operasi ini. Begitu strategi dibuat, briefing berakhir, dan operasi dimulai.

“Kekuatan musuh utama hanya terdiri dari Grauwolf.”

Semua unit terbaring dalam penyergapan. Lena membandingkan informasi yang diperoleh dari pengintai garis depan dengan sinyal radar dan catatan pertempuran; Ia membuat deduksi yang berkaitan dengan komposisi musuh secara samar-samar.

“Mengingat tingkat produksi dan pemeliharaan, Tembok yang hancur dalam pertempuran terakhir mungkin belum semuanya dibangun kembali. Sulit membayangkan Stier yang memimpin serangan musuh.”

Stier tidak memiliki mobilitas, dan praktis tidak ada armor. Itu adalah unit yang biasanya digunakan untuk penyergapan. Karena kemiripannya dengan Löwes, mereka sering keliru saat diperkenalkan pertama kali, dan manusia berhasil melawan mereka.

“Sementara granat “Juggernaut” tidak berpengaruh terhadap Löwe, armor Grauwolf yang lebih ringan akan berarti dalam dukungan terhadap Scorpion akan terbatas. Kurasa kalau kita menghilangkan Ameise terlebih dahulu, seharusnya tidak menjadi ancaman.”

“Werewolf ke semuanya. Dikonfirmasi. Persis seperti yang ditebak Mayor.”

Yang berbicara adalah Raiden, yang pergi untuk pengintaian. Dia terdengar terkesan, dan tertegun.

“Tapi serius… kau berbicara tentang tingkat produksi dan perawatan? Apa kau tidur nyenyak?”

Shinn tiba-tiba angkat bicara.

“Mayor, tolong matikan para-RAID kali ini.”

“Eh?”

“Medan perang yang kacau tak terelakkan, terutama karena kita akan melawan beberapa Grauwolf. Terlalu banyak musuh… akan berbahaya jika tetap disinkronkan denganku.”

Sementara Shinn telah berbicara dengan lancar dalam bahasa Republikan, Lena tidak mengerti. Apa yang dia katakan?

Banyak domba hitam?

“Kalau kau mau mendengarku, akan kujelaskan kepadamu saat pertempuran ini berakhir. Tolong putuskan sekarang.”

Pertempuran akan segera dimulai, dan bisa dimengerti bahwa dia tidak punya waktu untuk menjelaskannya. Namun, Lena tidak senang dengan pengaturan ini.

“Kau belum terputus dengan anggota skuad lainnya, kan? Eintagsfliege masih ada, dan komunikasi nirkabel mungkin gagal. Aku tidak akan memutuskan sambungan.”

Ia menolak untuk melakukannya. Shinn mungkin punya beberapa kata untuk diucapkan, tapi dia menelan kata-katanya begitu melihat 〈Legion〉 yang mendekat.

“…Aku sudah memperingatkanmu.”

Setelah mengatakan kalimat suram ini, “Undertaker” berdiri.

Seperti yang dikatakan Shinn, medan perangnya kacau, dan kedipan yang menunjukkan sekutu dan musuh terjalin pada radar yang nyaris tidak berfungsi karena terkena gangguan tersebut. Lena terus menatap monitor, menutupi telinga dengan satu tangan. Entah mengapa, suara ada bising yang melengking. Suara itu terdengar dari dalam kamarnya, atau suara Shinn dan yang lainnya dengar di medan perang. Suara apa itu?

Tepi kedip merah menunjukkan musuh-musuh, dan mereka mendekati kedip biru yang menunjukkan sebagai sekutu, termasuk “Undertaker,” unit Shinn. Kedua belah pihak saling mendekat di medan perang yang jauh, dalam jarak tempur. Kedua kedipan bentrok, dan pada saat itu—

Suara yang tidak diketahui bergema di telinga.

“—Mama.”

Suara itu berongga dan singkat, gumaman orang yang sekarat mengatakan ini dengan napas terakhirnya.

Lena berhenti, membeku di tempat. Suara itu terus bergema, ingatan dan perasaan yang tersisa lenyap dalam embusan asap sebelum Kematian, saat suara kosong mengerang,

“Mama. Mama. Mamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamamama…”

“Hii—?”

Ia merasa rambutnya berdiri.

Ia menutupi telinganya dengan kedua tangannya, tapi tidak ada gunanya karena suara itu berasal dari para-RAID. Anak sekarat yang menyerukan ibunya meresap seperti ombak. Teriakan yang bisa dimengerti menyerbu kesadarannya seperti tanah longsor, berulang berulang kali. Ledakan keras dan tumpul memotong suara yang memanggil ibunya, dan suara-suara serupa dengan cepat bergema

“Selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku selamatkan aku.”

“Panas panas panas panas panas panas panas panas panas panas panas panas.”

“Tidak… tidak… tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak.”

“Mama, mama, mama, mama, mama mama mama mama mama mama mama.”

“Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati. Aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati aku tidak ingin mati.”

“Y-Tidak… Tidaaaaaaaaaak…!”

Banyak suara sekarat berputar-putar seperti pusaran, diam-diam melahap semua keruwetan rasionalitas dan pemikiran. Di antara mereka, suara Shinn berdering.

“Mayor! Putuskan sekarang! Mayor Millize!”

Anak laki-laki yang biasanya tenang itu menunjukkan sedikit kecemasan yang jarang terjadi dalam panggilannya, tapi dia tidak dapat mencapai telinga Lena yang panik. Ia menutupi telinganya dengan rasa sakit, layu karena dorongan untuk melarikan diri, dan mengeluarkan seruan serak. Namun, ia kehilangan kewarasan terakhirnya di tengah gelombang erangan yang tak berujung—

“Tch!”

Shinn mendecakkan lidahnya dan terputus. Suara-suara sekarat lenyap.

“……Ah…”

Dia dengan kaku mengangkat kepalanya, dan dengan hati-hati mengendurkan tangannya… ia tidak bisa mendengar apapun. Ia telah terputus dari semua Procesor.

Dalam ketakutan dan napasnya yang panik, ia perlahan melebarkan matanya, dan menatap ruang kontrol yang redup, dan mendapati dirinya terjatuh, terjatuh ke lantai.

…Apa itu tadi…?

Bukan suara Processor yang disinkronkan. Tak satu pun dari suara itu milik mereka, dan jumlahnya jauh lebih banyak.

Dan di antara erangan tanpa henti, ia bisa mengidentifikasi salah satunya.

—Aku tidak ingin mati

“…Kirschblüte… Kaie…?”

Shinn terputus dengan Lena, dan sedang bertarung dengan sekelompok besar “domba hitam.” Dia menyipitkan matanya saat suara-suara sekarat memenuhi telinganya. Sebagian besar musuh adalah Grauwolf, dan bilah frekuensi tinggi mereka bisa memotong armor seperti air. Dengan demikian, dia terlambat untuk memutuskan hubungan karena harus menghadapi tebasan yang masuk.

Jeritan, erangan, auman. Semua jenis suara bergema, memekakkan telinga saat mereka mendekat, sehingga dia bisa mengenali suaranya. Seo bisa mendengar salah satu dari mereka melalui Para-RAID-nya, dan mengerang,

“Sial…! Itu, Kaie…!”

Shinn bisa merasakan beberapa terkesiap. Komunikator penuh dengan keributan.

“Kaie…!? Apakah dia dibawa…!?”

“Sialan… Angel harus melawannya…!”

Dia mengabaikan teriakan marah dari teman skuad-nya dan mengidentifikasi lokasi “Kaie.” Berbeda dengan yang lain yang mendengar ini melalui Para-RAID, hanya Shinn yang bisa melakukannya.

Dia bisa dengan mudah mengidentifikasi di mana ia berada, tanpa harus memusatkan pendengarannya. Ketepatan pendengarannya adalah manusia super, seseorang yang mampu menemukan jarum di tumpukan jerami.

Dan yang paling dekat dengannya adalah— Krena.

“Gunslinger, pukul dua, jarak delapan ratus. Pemimpin skuad dengan lima belas unit, Grauwolf kedua dari kanan.”

“…Mengerti.”

Setelah tembakan meriam, suara jiwa yang telah bertahan bahkan setelah kematian, suara memohon Kaie yang hidup akhirnya lenyap, saat penghancuran membawanya kembali ke gerbang Hades.

Shinn berdiri diam di pusaran dendam dan jeritan, menghela napas dengan belas kasihan,

“Sebuah pertempuran untuk meratapi orang mati, huh.”

Jiwa orang mati tidak akan pernah kembali sampai mereka hancur.

Mereka sepertinya merindukan penghiburan yang pantas mereka dapatkan.

Gadis Handler itu mungkin tidak akan pernah menghubungi kami lagi… Shinn sejenak merasakan penyesalan yang masih ada, dan mengerutkan kening.

Pada saat dia mengumpulkan keberanian untuk melakukan sinkronisasi lagi, matahari sudah terbenam.

Kapan pun ia memiliki keinginan untuk melakukannya, hatinya akan dipenuhi dengan banyak ketakutan, sehingga ia merasa mual. Ia hanya bisa berhenti sejenak, menenangkan diri, dan mencoba lagi, mencuci muka dan ulangi. Baru saat malam tiba, saat lampu menyala di garis depan, ia akhirnya mengirim transmisi.

Apakah aku akan menyebabkannya kerepotan? pikirnya, dan ia berusaha keras menyingkirkan pikiran itu. Jika ia meninggalkannya besok, ia mungkin akan bingung karena alasan yang sama lagi, dan tidak berani lagi melakukan sinkronisasi.

Ia menarik napas dalam-dalam untuk menahan napasnya yang panik, dan mengaktifkan Para-RAID. Untungnya, dia tidak tertidur, dan ia berhasil melewatinya. Hanya ada satu orang di ujung sana.

Dialah yang mengatakan untuk memutuskan sambungan, dan memperingatkannya agar tidak bersinkronisasi. Tentu, dialah yang harus ia tanyai.

“…Kapten Nouzen.”

Ia merasakan Shinn melebarkan matanya.

“Ini Millize. Eh, apa boleh bicara sekarang?”

Ada jeda sejenak.

Dan enth kenapa, ia bisa mendengar air pada saat ini, seolah hujan turun.

“…Aku di kamar mandi.”

“Eh!?”

Ini pertama kalinya Lena mendengar dirinya sendiri membuat suara seperti itu.

Telinganya benar-benar merah, dan saat ia ingin membalas, lidahnya kaku, dan ia telah berhenti memikirkan segalanya. Ia dibiarkan ketakutan dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan hari sebelumnya, dan akhirnya menambahkan beberapa kata.

“Ma-maaf, erm, sudah larut sekarang… aku akan segera memutuskan sambungan.”

“Tidak.”

Suara Shinn sama mantapnya, dan ini agak menjengkelkan bagi Lena.

“Aku tidak keberatan, secara pribadi, dan aku akan tidur begitu aku selesai mandi. Kalau ada apa-apa, tanya aja. Juga, jangan pedulikan.”

“……Gitu? kalau gitu…”

Meski begitu, ayah Lena meninggal lebih awal, dan ia tidak memiliki saudara laki-laki, dan tidak ada kekasih. Keadaan ini agak terlalu merangsangnya. Ia angkat bicara, merasakan bahwa wajahnya masih mendesis.

“Ah… yeah, erm, bagaimana jalannya pertempuran? Apa ada korban? Atau, KIA…?”

“Tidak sama sekali… apa cuma itu yang ingin kau tanyakan?”

“Karena…”

Betapapun tajamnya mereka, tidak ada kepastian bahwa mereka bisa kembali dari pertempuran melawan 〈Legion〉 dalam satu kesatuan.

Selanjutnya, mereka bertempur dalam gema teriakan, ia benar-benar takut membayangkan bahwa skuad telah disapu bersih, bahwa tidak ada yang akan terhubung jika ia mencoba untuk melakukan sinkronisasi.

“Kapten… suara yang kudengar saat pertempuran hari ini adalah…”

Begitu ia mengatakan itu, ia merasa merinding.

Ada kebisingan di latar belakang transmisi, seperti biasa. Kedengarannya seperti gemuruh hutan dalam, atau obrolan di kejauhan.

Dan pada titik ini, obrolon di kejauhan itu lebih mirip suara sekarat tak terhitung.

Ia akhirnya mengerti mengapa Shinn disebut “Undertaker,” mengapa Handler sebelumnya benar-benar takut padanya.

Alasannya adalah suara-suara itu.

“Apa, itu…?”

“…”

Suara air sajalah yang bergema dalam jeda.

“Dulu, aku sudah mati.”

Entah dari mana, ada rasa sakit yang berasal dari lehernya, seolah-olah ia dicekik secara brutal.

Rasa sakit itu tidak datang dari indra Lena sendiri, tapi melalui para-RAID… dengan kata lain, itu adalah milik Shinn.

“Sebaliknya, aku akan mengatakan bahwa aku mati sekali saat itu. Jadi aku bisa mendengar suara jiwa orang mati namun tetap tinggal di dunia ini… karena aku seperti mereka.”

“… Hantu.”

Tiba-tiba, ia teringat akan kecelakaan yang dialami ayah Arnett.

Dia mendorong tingkat aktivasi saraf para-RAID ke nilai maksimum teoretis, dan jatuh ke dalam kesadaran dunia itu sendiri, tidak pernah bisa kembali.

Jika memang begitu, jika semua orang mati harus kembali ke dunia tanpa dasar.

Kemudian mereka yang berada di ambang kematian, yang hampir jatuh ke jurang maut — mungkin bisa menjalin kontak dengan hal-hal lain di dalam jurang tersebut, semudah menggunakan Para-RAID. Misalnya, hantu yang tidak akan pernah musnah dalam kekekalan, yang telah jatuh ke dasar jurang maut setelah kematian, dan berada di dalam tubuh yang masih berjuang untuk memanjat keluar.

Tapi itu…

“〈Legion〉…?”

Ia mendengar suara saat para Grauwolf berada tepat di depan Shinn. Sebelum pertempuran, Shinn berkata,

“Mereka, Legion, adalah hantu. Mereka kehilangan tujuan mereka sebagai senjata saat Kekaisaran hancur, tidak memiliki misi, dan tidak perlu memenuhi kewajiban mereka, tapi mereka tetap bertahan di dunia ini… mereka adalah hantu milik militer sebuah negara yang hancur.”

“… Tunggu, jadi alasanmu bisa mendeteksi 〈Legion〉…”

“Ya, aku bisa mendengar suara mereka. Selama mereka mendekat, aku bisa mendengarnya, bahkan saat aku sedang tidur.”

“Tunggu dulu…!”

Lena mengerang. Dia baru saja menyebutkan sesuatu yang tidak bisa ia lewatkan begitu saja.

Dia bisa mendengar mereka saat mereka mendekat? Meskipun basis musuh terdekat agak jauh dari mereka? Dia bisa tahu berapa banyak 〈Legion〉 yang bergerak dalam kisaran tersebut!?

Suara orang-orang Mati seperti jejak kaki yang jauh dan gemerisik daun-daun.

Karena Para-RAID diatur ke nilai minimum, ia hanya bisa mendengar suara suara yang disinkronkan dengannya, suara di dalam lengan panjang dari suara yang disinkronkan.

Bagi Lena, kapan pun ia bersinkron dengan Shinn, suara latar belakang tampak seperti campur aduk baginya… tapi bagaimana mereka memandang Shinn?

“Berapa banyak suara yang bisa kau dengar sekarang, Shinn? Seberapa besar jangkauannya, dan berapa banyak…”

“Aku tidak bisa mengatakan jarak yang tepat, tapi aku bisa mendengar semua Legion di bekas tanah Republik… Aku bisa mendengar beberapa suara lebih jauh, tapi aku tidak bisa menemukan mereka semua.”

Dunia itu tak terbayangkan.

Bahkans sebuah suara gumaman, termasuk jumlah total 〈Legion〉.

Dia telah mendengarkan mereka sepanjang waktu, bahkan saat tidur.

“Apa kau tidak… menganggapnya sebagai beban?”

“Udah biasa sih. Sudah lama sekali.”

“Kapan, dimulainya…?”

Dia tidak menanggapi, jadi Lena mengajukan pertanyaan berikutnya,

“Aku mendengar suara Letnan Kaie Tanya. Apakah itu karena, dia… telah menjadi hantu juga?”

Ada sedikit kebingungan dalam kata-katanya. Fakta ini tetap begitu nyata baginya.

Jeda sejenak. Suara air berhenti, dan sepertinya dia menyeka air di rambutnya.

“Pemerintah Republik menentukan bahwa perang ini akan berakhir dua tahun lagi, kan?”

“Eh, ya… bagaimana kau tahu?”

Lena sedikit gelisah sehubungan dengan perubahan percakapan yang tiba-tiba, tapi ia tetap mengangguk. Pemerintah tidak mengungkapkan hal ini, untuk mencegah para Processor mendapat harapan.

“Dengar dari Seo. Dia mendengarnya dari Kapten lamanya… CPU Legion dirancang untuk memiliki umur yang terbatas, dengan waktu kurang dari dua tahun lagi. Aku benar kan?”

“…Ya.”

Sistem Saraf Pusat dari 〈Legion〉 terdiri dari cairan nanomachine yang menirukan sistem saraf mamalia, dan memberikan kemampuan processor mirip dengan sistem saraf mamalia besar. Namun, dalam cetak biru perawatan struktur ini, ada batas waktu yang ditentukan dan proses penghancuran sendiri yang tidak dapat dihapus.

“Begitu aku mendengar penjelasan Seo, aku mengerti. 〈Legion terdengar seperti mesin, tanpa sajak atau ritme. Kemudian, suatu hari, suara manusia masuk. Aku bisa menebak apa yang terjadi, tapi aku tidak tahu kenapa mereka melakukannya.”

Kemudian terdengar suara rambut dikeringkan dengan cara kasar yang tidak dapat dibayangkan wanita, diikuti dengan suara lembut gesekan kain. Jelas pakaian itu berkualitas rendah, kasar dan kaku.

“Kalau cetak biru Sistem Saaf Pusat hilang, mereka bisa mendapatkan penggantinya… dan hal yang bisa digunakan untuk menggantikannya ada di sebelah mereka.”

“…Apa itu?”

“Ya. Sistem Saraf Pusat yang sangat maju bahkan di kalangan mamalia. Otak manusia.”

Sesaat berpikir sudah cukup untuk membiarkan Lena memberontak. Ini amat aneh; itu adalah penodaan martabat manusia secara langsung. Sebaliknya, Shinn tetap tetap seperti biasa.

“Dugaanku adalah bahwa itu adalah replika otak manusia. Otak orang mati akan membusuk dengan cepat, dan tidak banyak mayat yang bisa diawetkan dengan baik untuk bisa digunakan, apalagi yang tanpa kerusakan otak. Sebenarnya, kami pernah bertemu Legion dengan suara yang sama setidaknya satu kali. Aku menduga Kaie seharusnya berada di tempat lain.”

Gadis itu tidak lagi hidup, permohonannya tetap disegel di mesin, mengulanginya seperti kotak musik.

“Jadi sementara aku bilang mereka hantu, mereka berbeda dari norma. Aku akan mengatakan bahwa mereka lebih merupakan residu. Mereka tidak memiliki kehendak manusia, dan tidak ada niat untuk berkomunikasi. Apa yang mereka replikasi adalah otak orang mati, pada saat momen akhir mereka. Pikiran mereka hanya ulangan dari saat itu, dan mereka menjadi hantu yang berada di antara Legion.”

“…Domba hitam…”

“Ya, Domba Hitam, yang bermutasi dirasuki oleh hantu, bercampur di antara Domba Putih yang disebut Legion. Saat ini, domba hitam telah jauh melampaui domba putih.”

Meskipun mereka mulai membusuk saat momen kematian, otak manusia tetap paling maju di antara mamalia. Sistem Saraf Pusat dari 〈Legion〉 menirukan otak manusia, dan pastinya kapabilitasnya lebih unggul. Meskipun cetak biru telah gagal berkali-kali, suara orang Mati yang terus-menerus menunjukkan bahwa domba Hitam yang bermutasi itu bertambah lebih cepat jumlahnya.

Ia memiliki perasaan bahwa Shinn mengasihani 〈Legion〉, karena mereka telah kehilangan tempat asal mereka, alasan untuk terus berjuang, dan alasan untuk ada, namun mereka adalah hantu mekanis, mayat pemulung, yang selalu berperang seperti yang didefinisikan dalam parameter mereka.

“…Aku agak mengerti alasan mengapa mereka terus menyerang Republik.”

“Eh?”

“Mereka adalah hantu. Mereka harus pergi, namun masih tetap tinggal, sampai mereka musnah. Kurasa mereka ingin kembali, dan karena itulah mereka menyerang mereka yang juga hantu di hadapan mereka, ingin membawa mereka.”

“Hantu…?”

Siapa yang dia maksud?

Apakah dia mengacu pada para Delapan Puluh Enam yang masih hidup, yang tidak dianggap manusia, dan tidak ada bedanya dengan orang mati dalam masyarakat?

Republik mati sembilan tahun yang lalu, kan… apa bisa ditemukan lagi sekarang, semangat dari bendera lima warna yang membentuk dasar negara?”

Kata-kata tenang dari Shinn mengandung kritik tajam yang menghantam terlalu dekat dengan rumah.

Kebebasan, kesetaraan, persaudaraan, keadilan, dan kemurnian. Tanpa alasan rasional, mereka mendegradasi orang ke dalam kelas, dan tidak merasa malu atau kasihan jika jutaan orang kehilangan nyawa… negara ini telah lama kehilangan haknya untuk meninggikan nilai-nilainya.

Republik menyerahkan kematiannya sendiri. Mati total sembilan tahun yang lalu, saat beberapa orangnya menganiaya kelompok yang berbeda.

Mungkin Shinn bisa mendengar suara yang telah mati, namun tetap bertahan, suara hantu memanggil Republik.

Lena tidak mengatakan apa-apa tentang itu. Setelah terdiam beberapa saat, Shinn tiba-tiba berbicara, suaranya tenang seperti biasanya, menceritakan apa yang tampaknya merupakan fakta yang mapan.

“Mayor, kau akan kalah dalam perang ini.”

Dia tidak mengatakan “kita”.

“Apa maksudmu?”

“Aku mengatakan bahwa Legion mungkin tidak berhenti berfungsi hanya karena Sistem Saraf Pusat dinonaktifkan. Sebenarnya, aku bisa merasakan bahwa jumlah mereka tidak menurun, malah bertambah… lalu, bagaimana dengan para Delapan Puluh Enam? Berapa yang tersisa?”

Lena tidak bisa menjawab. Ia tidak tahu. Republik tidak pernah menghitungnya.

“Aku menduga satu-satunya yang tersisa, berusia dua atau tiga tahun lebih muda dari kita. Begitu mereka ditahan di Kamp Konsentrasi, Para Delapan Puluh Enam tidak pernah diproduksi ulang, dan setengah dari bayi-bayi itu kemudian meninggal.”

Para orang dewsa Delapan Puluh yang telah ditahan sebelumnya praktis terbunuh dua tahun dalam perang. Tak satu pun tentara yang direkrut bertahan, dan yang lainnya yang dimobilisasi untuk membangun 〈Grand Mur〉 dihukum melalui kondisi yang sulit, dibuat untuk melakukan pekerjaan kasar yang sulit, dan mereka binasa sebagai hasilnya. Orang tua dan pesakitan, tidak ada gunanya bagi siapapun, meninggal selama sembilan tahun ini.

“…Kenapa, bayi juga…?”

“Apa kau bertanya tentang tingkat kematian bayi, di lingkungan yang tidak punya layanan medis yang tepat?... Di Kamp Konsentrasi tempatku berada, tidak ada bayi yang selamat dari Musim Dingin pertama, dan aku menduga itu sama untuk Kamp lainnya. Dari bayi yang masih hidup, setengah dari mereka dijual.”

“Dijual?”

“Yeah, oleh beberapa tentara dan Para Delapan Puluh Enam untuk mencari uang. Aku tidak tahu apakah mereka dijual secara keseluruhan atau sebagian.”

Hanya beberapa saat kemudian Lena mengerti maknanya. Ia merasa wajahnya memucat.

Dengan kata lain, di Republik ini, ada orang-orang yang mencemooh para Delapan Puluh Enam sebagai babi, yang melakukan apapun yang mereka inginkan dari anak-anak babi itu, dan menggunakan organ mereka untuk memperpanjang hidup mereka.

Yang tersisa hanyalah remaja, dan mereka dikirim ke medan perang, sampai mereka tidak dapat lagi bertarung.

Legion tidak akan turun jumlahnya, tapi para Delapan Puluh Enam akan mati. Pada saat itu, maukah kalian bertarung? Kalian tidak tahu bagaimana bertarung, tidak mengerti formasi peperangan. Tanpa pikir panjang, kalian memiliki wajib militer untuk para Delapan Puluh Enam dan membayar pengeluaran militer. Apa menurutmu kalian akan bisa mempersenjatai diri dan bertarung?”

Mungkin tidak, cibirnya.

Dia tidak mengejek orang-orang yang menimbulkan rasa sakit pada orang lain dan akan menderita keadaan yang sama; Dia mengolok-olok orang-orang yang hanya peduli akan manfaat di depan mereka, mengabaikan kenyataan, berada dalam pelipur lara singkat, dan telah terdegradasi menjadi makhluk terbelakang tanpa kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri.

“Kalau tidak ada relawan relawan, wajib militer adalah satu-satunya jalan keluar. Di bawah pendirian Republik, ini hanya akan dilakukan pada saat terakhir, ketika bahaya sudah dekat. Pada saat itu, akan terlambat… sebuah cacat Republikanisme modern adalah bahwa keputusan tidak dapat dibuat kecuali jika ini adalah masalah hidup dan mati.”

Lena terus membayangkan citra kekalahan realistis yang jelas seperti yang Shinn katakan, dan dengan panik menggelengkan kepalanya untuk melepaskan gagasan itu, mencoba menyangkalnya. Bukan karena ia punya alasan untuk menyangkal, tapi ia tidak dapat menerima kemungkinan yang tiba-tiba dan tak terbayangkan bahwa negaranya akan diluluh lantakkan dalam beberapa tahun saja.

“T-Tapi, 〈Legion〉 terdeteksi menurun jumlahnya! Sudah jadi setengah dibandingkan tahun sebelumnya…”

“Itu adalah jumlah yang bisa dideteksi dalam jangkauan, kan? Karena jamming elektronik 24/7 dari Eintagsfliege, segala sesuatu mulai dari Area Konstentrasi sampai jauh di dalam Teritorial Legion tidak dapat dideteksi… memang benar bahwa jumlah Legion di garis depan telah menurun, tapi itu karena mereka tidak mengirim melebihi jumlah yang dibutuhkan. Di satu sisi, mereka terus bertempur dalam perang gesekan, sementara di sisi lain, mereka menyimpan lebih banyak kekuatan di belakang, dan bertambah jumlahnya.”

Hanya ada satu tujuan.

Untuk mempertahankan kekuatan, hentikan perang gesekan yang membuat mereka jatuh, dan luncurkan serangan skala penuh, menembus pertahanan Republik dalam satu gerakan.

“Tapi 〈Legion〉 tidak memiliki kecerdasan untuk membuat keputusan seperti itu.”

“Tidak. Ini adalah alasan lain untuk kekalahanmu.”

Berbeda dengan respon menyedihkan dari Lena, suara Shinn tetap tenang dan tak peduli,

“Ada sedikit mayat dengan kepala yang tanpa bercacat, tapi di medan perang ini, ada jutaan mayat yang tidak diambil, dan masih mungkin untuk menemukan kepala yang belum membusuk… malahan bagi manusia, mudah untuk membuat keputusan untuk menaikkan kekuatan saat bertarung melawan musuh yang tidak bisa dikalahkan. Jadi, dengan asumsi ada unit Legion dengan kecerdasan sejajar dengan manusia, apa yang akan terjadi selanjutnya?”

“…!”

Domba hitam. 〈Legion〉 yang telah menduplikasi struktur otak manusia. Bahkan setelah membusuk, mereka akan memiliki kemampuan lebih baik daripada Sistem Saraf Pusat.

Jadi, bagaimana jika mereka menemukan cara untuk menjadi abadi, bahwa mereka bisa menemukan otak manusia yang belum membusuk?

“Kami memanggil unit Legion Gembala.  adalah tentara yang ditugaskan untuk bertindak, namun Gembala adalah komandan yang memimpin jiwa-jiwa yang telah mati ini. Pada titik ini, kami telah melawan beberapa regu musuh yang dipimpin oleh Gembala, dan mereka jauh lebih jahat daripada mereka yang tidak memiliki komando. Tidak ada bandingannya.”

“Tunggu. Maksudmu mesin itu bukan sekadar asumsi, bahwa mereka itu benar-benar ada? Bisakah kau—”

“Aku bisa mendengarnya. Suara para komandan ini menjangkau dari jauh, dan aku dapat membedakannya dengan mudah bahkan di antara unit musuh. Ada puluhan komandan di sepanjang medan perang, dan di ZonaPerang Pertama kami — ada satu.”

Pada saat itu, suara Shinn dingin sekali, seperti pisau yang memantulkan sinar bulan, memberikan kehadiran tajam dan berbahaya seperti saat dia menyebutkan saudara laki-lakinya yang telah meninggal.

Ia sangat ketakutan.

Republik akan dihapuskan, karena ketidakmampuan dan kebodohannya, karena jutaan orang dikirim ke medan perang dan binasa, karena pergelangan kaki mereka disambar oleh jiwa-jiwa orang mati para Delapan Puluh Enam yang terlalu malas untukmereka kuburkan.

“T-Tapi.”

Tiba-tiba, Lena angkat bicara, seolah memikirkan sesuatu.

“Itu… hanya jika kalian semua mati, kan?”

Shinn berkedip.

“Ya.”

“Kalau begitu, kalau kita bisa mengalahkan 〈Legion〉 sebelum itu, itu tidak akan terjadi. Kalau kalian… Skuad Spearhead yang bisa mengetahui di mana 〈Legion〉 bersembunyi dan menyerang, ini bukan tidak mungkin, kan?”

Jika mereka, siapa yang paling bisa melawan serangan 〈Legion〉 yang paling kuat.

“Dengan tenaga manusia, peralatan, dan waktu yang cukup, seharusnya mungkin. Semua bentuk peperangan membutuhkan kondisi seperti itu.”

“Kalau begitu, ayo kita kalahkan mereka. Aku juga—”

Ia baru saja akan mengatakan bahwa aku akan bertarung , tapi mengoreksi dirinya sendiri karena ia merasa itu akan jadi sombong terhadapnya.

“Aku akan melakukan yang terbaik. Entah itu untuk menganalisa musuh, merumuskan strategi, apapun yang bisa kulakukan, aku pasti melakukannya… harusunya sama untuk medan perang lainnya.”

Tentunya, jika dia bisa mendapatkan intel musuh terperinci dan merencanakan tindakan perlawanan dasar, akan bermanfaat bagi Republik. Dengan logika ini, berbagi pengalaman dengan orang lain bukanlah tugas yang sulit untuk diselesaikan.

“Kapten Nouzen, masa tugasmu akan berakhir tahun ini kan? Mari kita… hidup sampai saat itu.”

Shinn menunjukkan senyum masam, suaranya dipenuhi secercah kebaikan.

“…Harusnya.”

Setelah terputus dari Lena, Shinn kembali ke kamarnya di barak, lampu padam dan hanya ada keheningan.

Dia memasuki kamarnya yang redup, dan jendela kaca memantulkan penampilannya di bawah sinar bulan purnama.

Syal biru tetap ada di lehernya bahkan dalam pertempuran, tapi ia akan melepasnya setiap kali ia tidur. Ia bermaksud untuk tidur begitu selesai mandi, dan dengan demikian, di kerah pakaian tentaranya yang dengan tergesa-gesa dipakai di atas kaos, warna biru yang familier tidak terlihat di mana pun.

Setelah menjalani kehidupan pertempuran, yang merupakan masalah hidup dan mati, tubuhnya yang ramping diasah untuk menjadi sekuat dan secepat macan tutul. Di leher elastis ini, ada tanda mlingkar bewarna merah gelap.

Bekas luka yang menegangkan saraf itu bukanlah dalam garis lurus, melainkan bergerigi. Seolah kepalanya pernah dipenggal, lalu dijahit kembali.

Ia lalu mengangkat tangannya, dengan lembut membelai bekas luka di lehernya.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *